JAKARTA, incahospital.co.id – Bernapas adalah tindakan yang dilakukan secara otomatis ribuan kali setiap hari tanpa perlu dipikirkan. Namun, ketika saluran napas yang normalnya terbuka mulai menyempit, setiap tarikan napas menjadi perjuangan yang terasa semakin berat dari hari ke hari. Stenosis subglotis adalah kondisi penyempitan pada area subglotis, yaitu bagian trakea yang terletak tepat di bawah pita suara, yang menghalangi aliran udara masuk dan keluar paru-paru.
Stenosis subglotis adalah kondisi yang bisa sangat serius karena area subglotis adalah salah satu bagian paling sempit dari seluruh saluran napas. Bahkan penyempitan yang relatif kecil di area ini bisa menyebabkan gangguan pernapasan yang signifikan, terutama pada bayi dan anak-anak yang saluran napasnya secara alami jauh lebih kecil dibanding orang dewasa.
Anatomi Area Subglotis

Untuk memahami stenosis subglotis, penting untuk mengenal lokasi anatomisnya. Laring atau kotak suara terdiri dari beberapa bagian. Area supraglotis terletak di atas pita suara. Glotis adalah area pita suara itu sendiri. Subglotis adalah area yang dimulai tepat di bawah pita suara dan berlanjut hingga ke trakea.
Area subglotis dikelilingi oleh tulang rawan krikoid, satu-satunya tulang rawan yang membentuk lingkaran penuh di sekitar saluran napas. Sifat ini membuat area subglotis tidak bisa mengembang untuk mengompensasi jaringan berlebih di dalamnya. Akibatnya, ketika ada jaringan parut atau jaringan berlebih yang terbentuk di sini, saluran napas menyempit tanpa bisa diatasi secara alami.
Penyebab Stenosis Subglotis
Stenosis subglotis bisa bersifat bawaan atau didapat setelah lahir.
Stenosis Subglotis Bawaan
Kondisi ini terjadi ketika area subglotis tidak berkembang dengan sempurna selama masa janin dalam kandungan. Stenosis kongenital ini bisa berupa tulang rawan krikoid yang berbentuk tidak normal atau jaringan yang berlebihan di area subglotis sejak lahir. Bayi dengan kondisi ini biasanya menunjukkan gejala sejak beberapa hari atau minggu pertama kehidupan.
Stenosis Subglotis Didapat
Ini adalah jenis yang paling umum, terutama pada orang dewasa. Penyebab utama meliputi:
Intubasi atau pemasangan selang napas yang berlangsung lama adalah penyebab paling umum dari stenosis subglotis yang didapat. Tekanan dari selang pada dinding subglotis bisa mengganggu aliran darah lokal, menyebabkan ulkus, dan akhirnya jaringan parut yang menyempitkan saluran napas. Risiko ini meningkat dengan semakin lamanya intubasi, ukuran selang yang terlalu besar, dan gerakan selang yang berlebihan.
Trakeotomi yang dilakukan terlalu tinggi atau teknik yang tidak optimal bisa menyebabkan jaringan parut di area subglotis. Selain itu, kondisi autoimun tertentu terutama granulomatosis dengan poliangitis atau yang sebelumnya disebut granulomatosis Wegener, bisa menyebabkan peradangan dan jaringan parut di saluran napas termasuk area subglotis. Refluks asam lambung yang berat yang mencapai laring juga dikaitkan dengan iritasi dan jaringan parut di area subglotis.
Gejala Stenosis Subglotis
Gejala stenosis subglotis berkembang seiring dengan semakin sempitnya saluran napas. Pada tahap awal, gejala mungkin sangat ringan dan mudah diabaikan.
Stridor
Stridor adalah suara napas yang berbunyi melengking atau berdesing, terutama saat menarik napas, yang dihasilkan oleh aliran udara yang dipaksa melewati saluran yang sempit. Ini adalah gejala paling khas dan sering menjadi keluhan pertama yang mendorong seseorang mencari pertolongan medis.
Sesak Napas
Sesak napas yang awalnya hanya muncul saat aktivitas berat secara bertahap bisa muncul bahkan saat aktivitas ringan atau saat istirahat seiring memburuknya penyempitan. Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan adalah tanda penting.
Perubahan Suara
Karena lokasinya yang dekat dengan pita suara, stenosis subglotis sering menyebabkan suara yang serak atau berubah kualitasnya. Pada kasus yang lebih berat, bicara bisa terasa lebih melelahkan dari biasanya.
Batuk dan Infeksi Berulang
Aliran udara yang terganggu di area subglotis bisa meningkatkan risiko penumpukan sekret dan infeksi saluran napas bawah yang berulang.
Pada Bayi
Bayi dengan stenosis subglotis kongenital sering menunjukkan gejala yang menyerupai croup berulang, kesulitan makan karena energi habis untuk bernapas, dan pada kasus yang berat bisa terjadi episode biru atau sianosis saat menangis atau makan.
Diagnosis Stenosis Subglotis
Diagnosis memerlukan pemeriksaan langsung pada saluran napas. Laringoskopi dan bronkoskopi, yaitu pemeriksaan menggunakan kamera kecil yang dimasukkan melalui hidung atau mulut, memungkinkan dokter melihat langsung kondisi area subglotis, menilai derajat penyempitan, dan karakteristik jaringan parut yang ada. CT scan leher memberikan gambaran lebih detail tentang lokasi dan panjang area yang menyempit. Tes fungsi paru juga dilakukan untuk menilai dampak penyempitan terhadap kemampuan bernapas secara keseluruhan.
Penanganan Stenosis Subglotis
Penanganan stenosis subglotis bergantung pada derajat keparahan penyempitan, penyebab yang mendasari, usia pasien, dan apakah kondisi masih aktif berkembang atau sudah stabil.
Dilatasi Endoskopik
Untuk penyempitan ringan hingga sedang, prosedur pelebaran saluran napas dari dalam menggunakan balon atau alat dilatasi lain melalui pendekatan endoskopik bisa memberikan perbaikan yang bermakna. Prosedur ini bisa diulang jika jaringan parut kembali tumbuh.
Laser dan Insisi Endoskopik
Laser atau pisau kecil yang dioperasikan melalui endoskop bisa digunakan untuk memotong jaringan parut dan memperlebar saluran napas. Prosedur ini sering dikombinasikan dengan injeksi steroid lokal untuk mencegah jaringan parut kembali tumbuh.
Rekonstruksi Bedah Terbuka
Untuk stenosis yang berat atau yang tidak merespons pendekatan endoskopik, rekonstruksi bedah yang lebih luas diperlukan. Prosedur laring-trakea rekonstruksi menggunakan cangkok tulang rawan dari bagian tubuh lain untuk memperlebar area subglotis yang menyempit. Pada kasus yang sangat berat, reseksi segmen yang menyempit dan penyambungan kembali dua ujung trakea yang sehat bisa dilakukan.
Trakeotomi Sementara
Dalam situasi darurat atau sebagai jembatan menuju operasi definitif, pemasangan lubang napas buatan di leher atau trakeotomi mungkin diperlukan untuk memastikan saluran napas yang aman.
Kesimpulan
Stenosis subglotis adalah kondisi yang memerlukan perhatian medis yang serius dan penanganan yang terencana. Dengan kemajuan teknik endoskopik dan bedah rekonstruksi, sebagian besar penderita stenosis subglotis bisa mencapai kualitas pernapasan yang jauh lebih baik dan menjalani kehidupan yang lebih nyaman dan aktif.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Kesehatan
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti : Endoftalmitis: Gejala, Penyebab, dan Penanganan Darurat
