0 Comments

JAKARTA, incahospital.co.id – Kanker pada anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan kanker pada orang dewasa. Salah satu jenis kanker yang paling sering ditemukan pada bayi dan anak usia dini adalah Neuroblastoma, yaitu kanker yang berkembang dari sel-sel saraf imatur yang seharusnya membentuk sistem saraf simpatik selama masa perkembangan janin.

Neuroblastoma paling sering muncul pada kelenjar adrenal yang berada di atas ginjal, tetapi juga dapat berkembang di sepanjang jalur sistem saraf simpatik, seperti leher, dada, perut, atau panggul. Penyakit ini memiliki tingkat keparahan yang sangat bervariasi. Sebagian tumor dapat tumbuh lambat bahkan mengecil secara spontan, sementara sebagian lainnya berkembang cepat dan menyebar ke berbagai organ.

Karena gejalanya sering menyerupai penyakit lain yang lebih umum pada anak, Neuroblastoma memerlukan pemeriksaan menyeluruh agar diagnosis dapat ditegakkan sedini mungkin.

Apa Itu Neuroblastoma?

Neuroblastoma

Neuroblastoma adalah kanker yang berasal dari neuroblast, yaitu sel saraf yang belum matang. Dalam perkembangan normal, sel-sel tersebut akan berubah menjadi jaringan saraf dan kelenjar adrenal. Namun, apabila terjadi gangguan pada proses pematangan, sel dapat terus membelah secara tidak terkendali dan membentuk tumor.

Sebagian besar kasus ditemukan pada anak berusia di bawah lima tahun, dengan insiden tertinggi pada bayi dan balita. Neuroblastoma termasuk salah satu tumor padat ekstrakranial yang paling sering dijumpai pada kelompok usia anak.

Lokasi tumor sangat memengaruhi gejala yang muncul, sehingga setiap penderita dapat menunjukkan keluhan yang berbeda.

Penyebab Neuroblastoma

Penyebab pasti Neuroblastoma belum diketahui. Penyakit ini terjadi akibat perubahan genetik pada neuroblast yang menyebabkan sel kehilangan kemampuan untuk mengatur pertumbuhan dan kematian sel secara normal.

Sebagian besar kasus muncul secara spontan dan tidak berkaitan dengan faktor keturunan. Namun, sebagian kecil kasus memiliki hubungan dengan mutasi gen yang diwariskan dalam keluarga.

Beberapa perubahan genetik yang diketahui berhubungan dengan Neuroblastoma antara lain:

  • Mutasi gen ALK.
  • Mutasi gen PHOX2B.
  • Perubahan pada gen MYCN yang berkaitan dengan bentuk penyakit yang lebih agresif.

Perubahan tersebut menyebabkan sel terus berkembang tanpa kendali hingga membentuk massa tumor.

Faktor Risiko Neuroblastoma

Walaupun belum banyak faktor risiko yang diketahui, beberapa kondisi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya Neuroblastoma.

Di antaranya meliputi:

  • Usia di bawah lima tahun.
  • Riwayat keluarga dengan Neuroblastoma, meskipun jarang.
  • Kelainan genetik tertentu yang memengaruhi perkembangan sistem saraf.

Berbeda dengan banyak jenis kanker pada orang dewasa, Neuroblastoma tidak diketahui berkaitan dengan pola makan, aktivitas fisik, maupun kebiasaan hidup tertentu.

Gejala Neuroblastoma

Gejala Neuroblastoma bergantung pada lokasi tumor, ukuran, dan apakah kanker telah menyebar ke organ lain.

Keluhan yang dapat muncul meliputi:

  • Benjolan pada perut.
  • Perut tampak membesar.
  • Nyeri perut.
  • Nafsu makan menurun.
  • Berat badan menurun.
  • Demam yang tidak diketahui penyebabnya.
  • Mudah lelah.
  • Nyeri tulang apabila kanker telah menyebar.
  • Mata tampak menonjol atau muncul memar di sekitar mata.
  • Gangguan berjalan akibat penekanan saraf.
  • Tekanan darah meningkat pada sebagian kasus.

Apabila tumor berada di dada, anak dapat mengalami batuk kronis, sesak napas, atau kesulitan menelan. Sementara itu, bila tumor menekan saraf tulang belakang, dapat timbul kelemahan pada tungkai atau gangguan buang air kecil dan buang air besar.

Sebagai contoh, seorang anak berusia tiga tahun dibawa ke rumah sakit karena perutnya tampak semakin membesar selama beberapa minggu. Orang tua juga mengeluhkan anak menjadi mudah lelah dan berat badannya menurun. Setelah menjalani pemeriksaan pencitraan dan biopsi, diketahui bahwa penyebabnya adalah Neuroblastoma pada kelenjar adrenal.

Bagaimana Diagnosis Dilakukan?

Diagnosis Neuroblastoma memerlukan kombinasi pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pencitraan.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi:

  1. Wawancara mengenai gejala dan riwayat kesehatan anak.
  2. Pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
  3. Pemeriksaan darah dan urine untuk mendeteksi peningkatan metabolit katekolamin.
  4. Ultrasonografi (USG).
  5. CT scan atau MRI untuk menilai ukuran dan lokasi tumor.
  6. MIBG scan untuk mengetahui penyebaran kanker.
  7. Biopsi jaringan tumor.
  8. Aspirasi atau biopsi sumsum tulang apabila dicurigai terjadi penyebaran.

Setelah diagnosis ditegakkan, dokter akan menentukan stadium penyakit untuk membantu memilih strategi pengobatan.

Penanganan Neuroblastoma

Terapi Neuroblastoma disesuaikan dengan usia anak, stadium kanker, karakteristik genetik tumor, serta tingkat risikonya.

Pilihan penanganan meliputi:

  • Operasi untuk mengangkat tumor.
  • Kemoterapi.
  • Radioterapi.
  • Transplantasi sel punca pada kasus tertentu.
  • Imunoterapi.
  • Terapi target sesuai karakteristik molekuler tumor.
  • Terapi suportif untuk mengurangi gejala dan efek samping pengobatan.

Pada beberapa kasus dengan risiko rendah, dokter dapat memilih pemantauan ketat apabila tumor diperkirakan memiliki kemungkinan mengecil secara spontan.

Komplikasi Neuroblastoma

Neuroblastoma dapat menyebabkan berbagai komplikasi, baik akibat pertumbuhan tumor maupun penyebarannya.

Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:

  • Penyebaran ke tulang.
  • Penyebaran ke sumsum tulang.
  • Penyebaran ke hati atau kelenjar getah bening.
  • Penekanan saraf tulang belakang.
  • Gangguan fungsi organ di sekitar tumor.
  • Efek samping kemoterapi dan radioterapi.
  • Kekambuhan setelah pengobatan.

Pemantauan jangka panjang diperlukan untuk mendeteksi kekambuhan maupun dampak terapi terhadap pertumbuhan anak.

Apakah Neuroblastoma Dapat Dicegah?

Hingga saat ini belum ada cara yang terbukti dapat mencegah Neuroblastoma karena sebagian besar kasus terjadi akibat perubahan genetik yang muncul secara spontan.

Namun, beberapa langkah berikut tetap penting dilakukan:

  • Menjalani pemeriksaan kesehatan apabila anak mengalami gejala yang tidak biasa.
  • Tidak menunda evaluasi bila ditemukan benjolan pada tubuh anak.
  • Mengikuti seluruh jadwal kontrol selama dan setelah pengobatan.
  • Berkonsultasi mengenai konseling genetik apabila terdapat riwayat keluarga dengan Neuroblastoma.

Deteksi dini memberikan peluang yang lebih baik untuk memperoleh hasil pengobatan yang optimal.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera membawa anak ke dokter apabila mengalami:

  • Benjolan pada perut atau bagian tubuh lain yang tidak diketahui penyebabnya.
  • Nyeri tulang yang menetap.
  • Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas.
  • Perut membesar disertai penurunan nafsu makan.
  • Mata menonjol atau muncul memar di sekitar mata tanpa cedera.
  • Kelemahan pada tungkai atau gangguan berjalan.
  • Demam berkepanjangan tanpa penyebab yang jelas.

Pemeriksaan lebih awal dapat membantu mendeteksi penyakit sebelum berkembang ke stadium yang lebih lanjut.

Kesimpulan

Neuroblastoma adalah kanker yang berasal dari sel saraf imatur dan paling sering menyerang bayi serta anak usia dini. Penyakit ini dapat berkembang di kelenjar adrenal maupun sepanjang sistem saraf simpatik dengan gejala yang bervariasi sesuai lokasi tumornya. Diagnosis memerlukan pemeriksaan laboratorium, pencitraan, dan biopsi, sedangkan pengobatan dapat berupa operasi, kemoterapi, radioterapi, imunoterapi, maupun terapi target. Penanganan sejak dini berperan penting dalam meningkatkan peluang keberhasilan terapi dan kualitas hidup anak.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Kesehatan

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti : Myelofibrosis Kelainan Sumsum Tulang yang Mengganggu Pembentukan Sel Darah

Author

Related Posts