JAKARTA, incahospital.co.id – Suara kendaraan, percakapan di tempat umum, atau bunyi peralatan rumah tangga umumnya tidak menimbulkan masalah bagi sebagian besar orang. Namun, bagi penderita Hyperacusis, suara dengan intensitas normal justru dapat terasa sangat keras, mengganggu, bahkan menimbulkan rasa nyeri pada telinga. Kondisi ini dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, hingga kesehatan mental apabila tidak ditangani secara tepat.
Hyperacusis bukan sekadar telinga yang sensitif terhadap suara keras. Gangguan ini terjadi karena sistem pendengaran memproses suara secara berbeda sehingga rangsangan suara dengan volume yang sebenarnya aman dianggap berlebihan oleh otak. Akibatnya, penderita sering menghindari lingkungan ramai dan lebih memilih tempat yang tenang untuk mengurangi rasa tidak nyaman.
Meskipun tergolong cukup jarang, Hyperacusis dapat dialami oleh siapa saja. Penanganan sejak dini berperan penting untuk membantu penderita kembali beradaptasi terhadap suara di lingkungan sekitar.
Apa Itu Hyperacusis?

Hyperacusis adalah gangguan pendengaran yang ditandai dengan meningkatnya sensitivitas terhadap suara sehari-hari. Pada kondisi ini, suara dengan intensitas normal dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, nyeri, atau bahkan memicu reaksi emosional yang kuat.
Gangguan ini berbeda dengan gangguan pendengaran biasa. Penderita Hyperacusis umumnya masih mampu mendengar suara dengan baik, tetapi ambang toleransi terhadap suara menjadi jauh lebih rendah dibandingkan orang lain.
Tingkat keparahan Hyperacusis dapat berbeda pada setiap individu. Sebagian hanya merasa terganggu oleh suara tertentu, sedangkan sebagian lainnya mengalami kesulitan menjalani aktivitas karena hampir semua suara terasa berlebihan.
Penyebab Hyperacusis
Hyperacusis dapat muncul akibat berbagai kondisi yang memengaruhi sistem pendengaran maupun sistem saraf.
Beberapa penyebab yang diketahui meliputi:
- Paparan suara keras dalam waktu lama.
- Cedera kepala.
- Trauma akustik.
- Penyakit Meniere.
- Bell’s palsy.
- Migrain.
- Infeksi telinga.
- Gangguan saraf pendengaran.
- Penyakit Lyme pada kasus tertentu.
- Efek samping beberapa obat.
Pada sebagian penderita, penyebab pasti Hyperacusis tidak dapat diketahui secara jelas.
Faktor Risiko Hyperacusis
Risiko mengalami Hyperacusis dapat meningkat pada individu dengan kondisi tertentu.
Beberapa faktor yang berperan antara lain:
- Pekerjaan di lingkungan dengan kebisingan tinggi.
- Riwayat cedera kepala.
- Riwayat gangguan pendengaran.
- Penyakit neurologis.
- Gangguan kecemasan.
- Riwayat tinnitus.
- Riwayat operasi telinga.
- Paparan suara berintensitas tinggi secara berulang.
Mengurangi paparan kebisingan berlebihan dapat membantu menjaga kesehatan sistem pendengaran.
Gejala Hyperacusis
Keluhan utama Hyperacusis adalah meningkatnya sensitivitas terhadap suara yang sebenarnya tidak terlalu keras.
Gejala yang sering dilaporkan meliputi:
- Suara sehari-hari terasa sangat keras.
- Nyeri pada telinga saat mendengar suara tertentu.
- Rasa tidak nyaman terhadap suara berintensitas sedang.
- Telinga terasa penuh.
- Mudah terkejut oleh suara.
- Sulit berada di tempat ramai.
- Tinnitus atau telinga berdenging.
- Sulit berkonsentrasi karena suara sekitar.
- Cemas ketika berada di lingkungan yang bising.
Sebagai contoh, suara mesin penyedot debu atau percakapan di restoran yang terdengar biasa bagi orang lain dapat terasa sangat menyakitkan bagi penderita Hyperacusis sehingga mereka memilih meninggalkan lokasi tersebut.
Bagaimana Hyperacusis Didiagnosis?
Diagnosis dilakukan berdasarkan keluhan pasien, pemeriksaan telinga, serta evaluasi fungsi pendengaran.
Dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan berikut:
- Wawancara mengenai riwayat gejala.
- Pemeriksaan telinga.
- Tes pendengaran atau audiometri.
- Pengukuran ambang ketidaknyamanan terhadap suara.
- Evaluasi adanya tinnitus.
- Pemeriksaan neurologis apabila diperlukan.
- MRI atau CT Scan pada kondisi tertentu.
Pemeriksaan bertujuan membedakan Hyperacusis dari gangguan pendengaran lainnya yang memiliki gejala serupa.
Penanganan Hyperacusis
Pengobatan Hyperacusis disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya serta tingkat keparahan gejala.
Pilihan terapi dapat meliputi:
- Sound therapy atau terapi suara.
- Konseling dan edukasi.
- Terapi perilaku kognitif.
- Pengobatan penyakit yang menjadi penyebab.
- Alat bantu pendengaran tertentu pada kasus yang sesuai.
- Rehabilitasi pendengaran.
Pendekatan terapi sering kali dilakukan secara bertahap agar penderita dapat kembali beradaptasi terhadap suara secara perlahan.
Komplikasi Hyperacusis
Apabila tidak mendapatkan penanganan, Hyperacusis dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan.
Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:
- Gangguan tidur.
- Kesulitan bekerja.
- Penurunan produktivitas.
- Isolasi sosial.
- Gangguan kecemasan.
- Depresi.
- Penurunan kualitas hidup.
- Ketergantungan pada penggunaan pelindung telinga secara berlebihan.
Komplikasi psikologis dapat berkembang apabila penderita terus menghindari lingkungan sosial karena takut terhadap suara.
Cara Menjaga Kesehatan Pendengaran
Menjaga kesehatan telinga merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan pendengaran.
Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan antara lain:
- Menggunakan pelindung telinga saat berada di lingkungan yang sangat bising.
- Menghindari mendengarkan musik dengan volume terlalu tinggi.
- Memberikan waktu istirahat bagi telinga setelah terpapar suara keras.
- Menjalani pemeriksaan pendengaran secara berkala apabila bekerja di lingkungan bising.
- Mengobati infeksi telinga hingga tuntas.
- Mengelola stres dengan baik.
Penggunaan pelindung telinga sebaiknya dilakukan sesuai kebutuhan dan tidak digunakan terus-menerus tanpa anjuran tenaga medis karena dapat meningkatkan sensitivitas terhadap suara.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Segera mencari pertolongan medis apabila mengalami:
- Suara biasa terasa sangat menyakitkan.
- Gangguan pendengaran disertai tinnitus.
- Nyeri telinga tanpa penyebab yang jelas.
- Sensitivitas suara yang semakin memburuk.
- Gangguan pendengaran setelah paparan suara keras.
- Keluhan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Diagnosis yang lebih cepat memungkinkan penyebab Hyperacusis diketahui lebih awal sehingga terapi dapat segera diberikan.
Kesimpulan
Hyperacusis merupakan gangguan pendengaran yang menyebabkan seseorang menjadi sangat sensitif terhadap suara dengan intensitas normal. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari paparan kebisingan, cedera kepala, hingga gangguan pada sistem saraf pendengaran. Meskipun dapat memengaruhi kualitas hidup, Hyperacusis dapat dikelola melalui kombinasi terapi suara, rehabilitasi pendengaran, dan penanganan penyebab yang mendasarinya. Pemeriksaan sejak dini menjadi langkah penting untuk membantu penderita beradaptasi kembali dengan lingkungan suara secara lebih nyaman.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Kesehatan
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti : Sel Senesen Berperan dalam Penuaan dan Berbagai Penyakit
