0 Comments

JAKARTA, incahospital.co.id – Di musim penghujan atau saat cuaca berubah, banyak orang tua yang membawa anaknya ke dokter dengan keluhan batuk khas yang terdengar seperti gonggongan anjing laut, disertai suara napas yang berbunyi saat menarik napas. Kondisi ini hampir selalu disebabkan oleh parainfluenza, virus pernapasan yang lebih umum dari yang banyak orang sadari namun sering dikira sebagai influenza biasa.

Parainfluenza adalah kelompok virus RNA yang menyerang saluran pernapasan manusia dari mulai hidung dan tenggorokan hingga paru-paru. Meskipun namanya mengandung kata influenza, parainfluenza adalah virus yang berbeda dari influenza dan tidak berhubungan dengannya. Virus ini adalah penyebab utama croup atau laringotrakeobronkitis pada anak-anak, serta menyebabkan berbagai infeksi saluran pernapasan lainnya pada semua kelompok usia.

Jenis Virus Parainfluenza

Parainfluenza

Ada empat tipe utama virus parainfluenza, masing-masing dengan kecenderungan menyerang saluran pernapasan yang berbeda dan menyebabkan penyakit yang sedikit berbeda.

Tipesatu dan dua adalah penyebab paling sering dari croup yang gejalanya khas berupa batuk menggonggong dan sesak napas terutama pada anak usia enam bulan hingga tiga tahun. Tipe tiga lebih sering menyebabkan bronkiolitis dan pneumonia, terutama pada bayi di bawah enam bulan. Tipe empat umumnya menyebabkan penyakit yang lebih ringan dan lebih jarang menimbulkan komplikasi serius.

Selain itu, tipe satu dan dua cenderung mengikuti pola musiman tertentu, sementara tipe tiga bisa muncul sepanjang tahun dengan lonjakan pada musim hujan di negara tropis seperti Indonesia.

Cara Penularan Parainfluenza

Parainfluenza menyebar melalui beberapa jalur. Pertama, melalui tetesan pernapasan yang dilepaskan saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Kedua, melalui kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi cairan pernapasan penderita, diikuti menyentuh mulut, hidung, atau mata. Virus bisa bertahan pada permukaan benda selama beberapa jam, sehingga permainan anak, meja, dan mainan yang sering disentuh bisa menjadi media penularan.

Masa inkubasi atau waktu antara terpapar virus hingga gejala muncul biasanya dua hingga tujuh hari. Penderita paling menular pada hari-hari pertama gejala muncul, namun bisa tetap menular selama satu hingga dua minggu setelahnya.

Gejala Parainfluenza

Gejala parainfluenza sangat bervariasi tergantung pada usia penderita, tipe virus yang menginfeksi, dan kondisi kesehatan umum.

Croup pada Anak

Ini adalah manifestasi paling khas dan paling mudah dikenali dari infeksi parainfluenza. Gejala dimulai seperti flu biasa dengan pilek dan demam ringan. Namun, dalam satu hingga dua hari kemudian, muncul batuk menggonggong yang sangat khas, suara serak, dan stridor yaitu suara melengking saat menarik napas akibat pembengkakan di sekitar pita suara dan trakea.

Gejala croup biasanya memburuk di malam hari dan bisa membuat anak dan orang tua sangat khawatir. Sebagian besar kasus croup bersifat ringan dan bisa ditangani di rumah, namun segera bawa ke unit gawat darurat jika anak terlihat sangat kesulitan bernapas, bibir atau ujung jari membiru, atau anak tampak sangat gelisah karena kekurangan oksigen.

Pada Bayi

Parainfluenza tipe tiga pada bayi bisa menyebabkan bronkiolitis atau radang saluran napas kecil di paru-paru. Gejalanya meliputi napas yang cepat dan dangkal, napas berbunyi saat menghembuskan napas, dan penurunan nafsu makan. Kondisi ini bisa menjadi serius pada bayi yang sangat muda atau yang lahir prematur.

Pada Orang Dewasa

Pada orang dewasa sehat, parainfluenza biasanya menyebabkan gejala yang mirip flu biasa seperti pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan kadang demam ringan. Gejala ini umumnya berlangsung selama satu hingga dua minggu dan sembuh tanpa komplikasi. Namun, pada lansia dan orang dengan sistem imun yang lemah, infeksi bisa berkembang menjadi pneumonia yang memerlukan penanganan medis intensif.

Penanganan Parainfluenza

Tidak ada obat antivirus yang spesifik untuk parainfluenza. Oleh karena itu, penanganan berfokus pada meredakan gejala dan mendukung proses pemulihan alami tubuh.

Penanganan Croup di Rumah

Untuk kasus croup ringan, beberapa langkah perawatan di rumah yang terbukti membantu antara lain membawa anak ke luar rumah untuk menghirup udara malam yang dingin dan lembap selama beberapa menit, atau membawa anak ke kamar mandi yang sudah diisi uap dari shower air panas. Udara dingin atau lembap membantu mengurangi bengkak di saluran napas. Menenangkan anak juga sangat penting karena menangis dan agitasi bisa memperburuk sesak napas.

Penanganan Medis

Pada kasus yang lebih berat, dokter bisa memberikan steroid seperti deksametason untuk mengurangi bengkak dengan cepat. Nebulisasi dengan epinefrin bisa digunakan untuk kasus yang sangat berat di fasilitas kesehatan. Oksigen tambahan diberikan jika kadar oksigen darah turun di bawah batas normal.

Perawatan Umum

Untuk semua kasus parainfluenza, istirahat yang cukup dan menjaga kecukupan cairan sangat penting. Obat penurun demam seperti parasetamol bisa digunakan untuk meredakan demam dan rasa tidak nyaman. Pada anak-anak, aspirin harus dihindari karena berisiko menyebabkan sindrom Reye.

Pencegahan Parainfluenza

Belum ada vaksin yang tersedia secara umum untuk parainfluenza. Oleh karena itu, pencegahan sepenuhnya bergantung pada langkah-langkah kebersihan. Beberapa cara yang terbukti efektif antara lain:

  • Mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air mengalir selama minimal dua puluh detik
  • Mengajarkan anak untuk menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin
  • Membersihkan mainan dan permukaan yang sering disentuh secara berkala
  • Menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit
  • Tidak berbagi peralatan makan atau minum

Kelompok yang Perlu Perhatian Ekstra

Bayi di bawah usia tiga bulan, anak-anak dengan penyakit jantung bawaan atau penyakit paru kronis, lansia di atas tujuh puluh tahun, dan mereka dengan sistem imun yang lemah perlu mendapat perhatian ekstra ketika terinfeksi parainfluenza. Pada kelompok ini, gejala perlu dipantau lebih ketat dan konsultasi medis lebih awal sangat dianjurkan.

Kesimpulan

Parainfluenza adalah virus pernapasan yang sangat umum namun masih kurang dikenal masyarakat luas. Mengenali gejalanya, terutama croup yang khas pada anak-anak, memungkinkan penanganan yang lebih cepat dan tepat.

Dengan kebersihan tangan yang baik dan kewaspadaan terhadap gejala yang memburuk, sebagian besar kasus parainfluenza bisa dilewati dengan aman tanpa komplikasi yang serius.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Kesehatan

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti : Sifilis Kulit: Gejala, Stadium, dan Cara Pengobatannya

Author

Related Posts