JAKARTA, incahospital.co.id – Sifilis adalah salah satu infeksi menular seksual yang sudah dikenal selama berabad-abad, namun masih menjadi ancaman kesehatan yang nyata hingga hari ini. Di berbagai negara termasuk Indonesia, angka kejadian sifilis menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu aspek yang sering kurang dipahami adalah bagaimana sifilis kulit menampilkan dirinya dalam berbagai bentuk yang berbeda di setiap tahap perkembangan penyakit.
Sifilis kulit merujuk pada berbagai manifestasi atau tanda-tanda di kulit yang muncul sebagai bagian dari infeksi sifilis secara keseluruhan. Tanda-tanda kulit ini berbeda-beda tergantung pada stadium infeksi dan bisa sangat bervariasi sehingga sifilis mendapat julukan “the great imitator” atau peniru ulung karena gejalanya bisa menyerupai banyak penyakit kulit lain.
Penyebab dan Cara Penularan

Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penularan terjadi melalui kontak langsung antara luka atau selaput lendir yang terinfeksi dengan kulit atau selaput lendir orang sehat. Cara penularan yang paling umum adalah melalui hubungan seksual, baik vaginal, anal, maupun oral. Selain itu, sifilis juga bisa ditularkan dari ibu kepada bayinya selama kehamilan atau persalinan, kondisi yang disebut sifilis kongenital.
Sifilis tidak menular melalui kontak biasa seperti berjabat tangan, berbagi peralatan makan, menggunakan toilet umum, atau bersin. Bakteri penyebabnya sangat rapuh dan tidak bisa bertahan lama di luar tubuh manusia.
Sifilis Kulit Stadium Pertama
Stadium pertama sifilis, yang disebut sifilis primer, biasanya ditandai oleh munculnya luka tunggal yang disebut chancre atau sanka. Luka ini memiliki ciri khas yang membedakannya dari luka biasa.
Chancre muncul di tempat bakteri masuk ke tubuh, yaitu bisa di alat kelamin, dubur, bibir, rongga mulut, atau lidah tergantung jenis kontak yang terjadi. Luka ini biasanya berbentuk bulat atau oval, berbatas tegas, tidak terasa nyeri saat disentuh, dan permukaannya terlihat bersih. Di sekitar luka, kelenjar getah bening sering membesar namun tidak terasa sakit.
Sifilis kulit primer bisa sangat mudah diabaikan karena lukanya tidak nyeri dan sering berada di lokasi yang tidak mudah terlihat. Tanpa pengobatan, chancre akan sembuh sendiri dalam tiga hingga enam minggu, namun ini tidak berarti infeksi telah hilang. Justru sebaliknya, bakteri terus berkembang di dalam tubuh dan penyakit berlanjut ke stadium berikutnya.
Sifilis Kulit Stadium Kedua
Stadium kedua atau sifilis sekunder adalah fase di mana bakteri sudah menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Pada stadium ini, manifestasi kulit sifilis menjadi jauh lebih luas dan beragam.
Ruam Sifilis Sekunder
Ruamadalah tanda paling khas dari sifilis sekunder. Ruam ini biasanya muncul dua hingga delapan minggu setelah chancre pertama muncul dan memiliki beberapa ciri yang membedakannya. Ruam sifilis sekunder bisa muncul di mana saja di seluruh tubuh namun sangat khas ketika muncul di telapak tangan dan telapak kaki, lokasi yang jarang terkena ruam pada penyakit lain.
Warnanya bisa merah muda, merah, atau kecokelatan, tidak terasa gatal, dan tidak melepuh. Pada beberapa orang, ruam ini bisa sangat samar sehingga hampir tidak terlihat. Oleh karena itu, banyak penderita yang melewatkan stadium ini tanpa menyadarinya.
Kondiloma Lata
Ini adalah lesi datar yang lembap dan berwarna abu-abu putih yang muncul di area lipatan tubuh yang lembap seperti selangkangan, ketiak, atau area di sekitar dubur dan alat kelamin. Kondiloma lata sangat menular karena mengandung banyak bakteri aktif.
Gejala Kulit Lainnya
Selain ruam dan kondiloma lata, sifilis sekunder bisa menyebabkan kerontokan rambut yang tidak merata membentuk pola yang tidak beraturan, lesi di rongga mulut yang disebut mucous patches, serta gejala sistemik seperti demam ringan, kelelahan, nyeri sendi, dan pembesaran kelenjar getah bening di seluruh tubuh.
Sifilis Laten dan Stadium Tersier
Setelah gejala sekunder mereda, infeksi masuk ke fase laten di mana tidak ada gejala yang terlihat namun bakteri masih ada dalam tubuh. Fase ini bisa berlangsung bertahun-tahun. Sekitar sepertiga dari mereka yang tidak diobati akan berlanjut ke sifilis tersier.
Sifilis kulit tersier ditandai oleh munculnya gumma, yaitu lesi granulomatosa yang bisa tumbuh di kulit, tulang, atau organ dalam. Gumma di kulit tampak sebagai benjolan atau borok yang tidak terasa sakit namun bisa merusak jaringan secara destruktif. Pada stadium ini, kerusakan yang sudah terjadi sering kali tidak bisa sepenuhnya dipulihkan.
Sifilis Kongenital pada Kulit Bayi
Bayi yang lahir dari ibu dengan sifilis yang tidak diobati bisa menunjukkan berbagai tanda di kulit. Ruam yang melapisi telapak tangan dan telapak kaki, lepuhan berisi cairan yang sangat menular, serta kondisi yang disebut rhinitis sifilitika adalah beberapa tanda yang bisa muncul pada bayi dengan sifilis kongenital.
Diagnosis Sifilis Kulit
Karena sifilis kulit bisa menyerupai banyak kondisi lain, diagnosis yang tepat memerlukan kombinasi pemeriksaan klinis dan laboratorium. Pemeriksaan yang digunakan antara lain:
- Pemeriksaan darah untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri sifilis, termasuk tes skrining seperti VDRL atau RPR dan tes konfirmasi seperti TPPA atau FTA-ABS
- Pemeriksaan cairan dari luka chancre atau kondiloma lata menggunakan mikroskop lapangan gelap untuk melihat bakteri secara langsung
- Biopsi kulit pada kasus tertentu untuk konfirmasi diagnosis
Pengobatan Sifilis Kulit
Kabar baiknya, sifilis pada semua stadium bisa diobati dengan antibiotik. Penisilin G dalam bentuk suntikan adalah pilihan utama dan standar emas pengobatan sifilis sejak puluhan tahun lalu. Bagi yang alergi penisilin, dokter bisa meresepkan doksisiklin atau azitromisin sebagai alternatif, meskipun dengan efektivitas yang sedikit berbeda.
Durasi dan dosis pengobatan bergantung pada stadium sifilis. Sifilis primer dan sekunder umumnya cukup diobati dengan satu suntikan penisilin dosis tunggal, sedangkan sifilis tersier dan laten memerlukan pengobatan yang lebih panjang.
Setelah pengobatan, pemeriksaan darah berkala diperlukan untuk memastikan bakteri telah berhasil dibasmi dan kadar antibodi dalam darah kembali ke level yang diharapkan. Pasangan seksual juga perlu diperiksa dan diobati untuk mencegah penularan kembali.
Pencegahan
Pencegahan sifilis tidak berbeda dari pencegahan infeksi menular seksual pada umumnya. Menggunakan kondom secara konsisten, membatasi jumlah pasangan seksual, melakukan skrining rutin terutama bagi yang aktif secara seksual, dan segera mengobati infeksi yang ditemukan adalah langkah-langkah utama yang harus dilakukan.
Kesimpulan
Sifilis kulit adalah cermin dari perjalanan infeksi sifilis yang bisa sangat beragam penampilannya. Mengenali tanda-tandanya sejak dini dan tidak menunda pemeriksaan adalah perbedaan antara pengobatan yang mudah dan komplikasi jangka panjang yang seharusnya bisa dihindari.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Kesehatan
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti : Norovirus: Gejala, Penularan, dan Cara Pencegahannya
