0 Comments

JAKARTA, incahospital.co.id – Mata merah sering kali dianggap sebagai gangguan ringan akibat kelelahan atau iritasi. Namun, pada beberapa kondisi, mata merah yang disertai nyeri hebat dapat menjadi tanda adanya penyakit serius, salah satunya adalah skleritis. Penyakit ini merupakan peradangan pada sklera atau bagian putih mata yang berfungsi menjaga bentuk bola mata sekaligus melindungi struktur di dalamnya.

Skleritis termasuk penyakit mata yang memerlukan penanganan medis karena dapat menyebabkan kerusakan jaringan mata apabila tidak segera diobati. Pada sebagian penderita, kondisi ini berkaitan dengan penyakit autoimun sehingga memerlukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui penyebab utamanya.

Mengenali gejala sejak dini menjadi langkah penting agar pengobatan dapat diberikan sebelum terjadi komplikasi yang berpotensi menurunkan kualitas penglihatan.

Apa Itu Skleritis?

Skleritis

Skleritis adalah peradangan pada sklera, yaitu lapisan keras berwarna putih yang menyelimuti sebagian besar bola mata. Peradangan dapat terjadi pada satu mata maupun kedua mata dan sering kali menimbulkan rasa nyeri yang cukup berat.

Berbeda dengan episkleritis yang hanya menyerang lapisan permukaan mata dan umumnya bersifat ringan, skleritis mengenai jaringan yang lebih dalam sehingga keluhannya jauh lebih serius.

Berdasarkan lokasi peradangan, skleritis dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Skleritis anterior difus.
  • Skleritis anterior nodular.
  • Skleritis nekrotikan.
  • Skleritis posterior.

Setiap jenis memiliki tingkat keparahan yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

Penyebab Skleritis

Sekitar separuh kasus skleritis berhubungan dengan penyakit autoimun. Pada kondisi tersebut, sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat sehingga memicu peradangan pada sklera.

Beberapa penyebab yang sering ditemukan meliputi:

  • Artritis reumatoid.
  • Lupus eritematosus sistemik.
  • Granulomatosis dengan poliangiitis.
  • Sindrom Sjögren.
  • Penyakit Behçet.
  • Sarkoidosis.
  • Infeksi bakteri.
  • Infeksi virus.
  • Infeksi jamur.
  • Cedera atau operasi pada mata.

Dalam beberapa kasus, penyebab pasti tidak dapat diketahui meskipun telah dilakukan berbagai pemeriksaan.

Faktor Risiko

Beberapa kondisi dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami skleritis, antara lain:

  • Memiliki penyakit autoimun.
  • Riwayat peradangan mata.
  • Pernah menjalani operasi mata.
  • Mengalami trauma pada mata.
  • Memiliki infeksi sistemik tertentu.
  • Berusia dewasa, terutama perempuan pada beberapa jenis penyakit autoimun.

Gejala Skleritis

Gejala skleritis biasanya berkembang secara bertahap, tetapi dapat pula muncul secara mendadak.

Beberapa gejala yang umum dialami meliputi:

  • Mata merah yang menetap.
  • Nyeri mata hebat hingga menjalar ke wajah atau kepala.
  • Mata terasa nyeri saat digerakkan.
  • Penglihatan kabur.
  • Mata berair.
  • Sensitif terhadap cahaya.
  • Penurunan ketajaman penglihatan.
  • Muncul benjolan pada sklera pada jenis tertentu.

Nyeri akibat skleritis umumnya tidak membaik hanya dengan obat tetes mata biasa sehingga memerlukan evaluasi oleh dokter spesialis mata.

Diagnosis Skleritis

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang meliputi:

  1. Wawancara mengenai keluhan dan riwayat penyakit.
  2. Pemeriksaan ketajaman penglihatan.
  3. Pemeriksaan slit lamp.
  4. Pemeriksaan bagian belakang mata bila diperlukan.
  5. Ultrasonografi mata pada dugaan skleritis posterior.
  6. Pemeriksaan darah untuk mendeteksi penyakit autoimun atau infeksi.
  7. Pemeriksaan pencitraan tambahan apabila dicurigai terdapat komplikasi.

Hasil pemeriksaan akan membantu menentukan penyebab sekaligus tingkat keparahan penyakit.

Pengobatan Skleritis

Terapi bertujuan mengurangi peradangan, meredakan nyeri, dan mencegah kerusakan jaringan mata.

Pilihan pengobatan meliputi:

  • Obat antiinflamasi nonsteroid.
  • Kortikosteroid oral atau suntikan sesuai indikasi.
  • Obat imunosupresan pada kasus autoimun.
  • Terapi biologik pada kondisi tertentu.
  • Antibiotik, antivirus, atau antijamur apabila disebabkan infeksi.
  • Penanganan penyakit yang mendasari.

Pengobatan harus dilakukan di bawah pengawasan dokter karena beberapa obat memerlukan pemantauan efek samping secara berkala.

Komplikasi Skleritis

Tanpa penanganan yang tepat, skleritis dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti:

  • Penipisan sklera.
  • Kerusakan kornea.
  • Katarak.
  • Glaukoma.
  • Uveitis.
  • Kerusakan retina.
  • Penurunan penglihatan permanen.
  • Kehilangan penglihatan pada kasus berat.

Cara Menurunkan Risiko Skleritis

Walaupun tidak semua kasus dapat dicegah, beberapa langkah berikut dapat membantu menjaga kesehatan mata:

  • Mengontrol penyakit autoimun sesuai anjuran dokter.
  • Menjalani pemeriksaan mata secara rutin.
  • Menggunakan pelindung mata saat berisiko mengalami cedera.
  • Menjaga kebersihan mata dan tangan.
  • Tidak menggunakan obat tetes mata tanpa rekomendasi tenaga medis.
  • Segera memeriksakan diri apabila mata merah disertai nyeri hebat.

Kapan Harus Segera Berkonsultasi ke Dokter?

Pemeriksaan medis tidak boleh ditunda apabila mengalami kondisi berikut:

  • Mata merah dengan nyeri berat.
  • Penglihatan menurun secara tiba-tiba.
  • Mata terasa sangat sensitif terhadap cahaya.
  • Nyeri tidak membaik dalam waktu singkat.
  • Mata tampak membengkak atau berubah bentuk.

Penanganan sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi serius dan meningkatkan peluang mempertahankan fungsi penglihatan.

Menjaga Kesehatan Mata untuk Mencegah Gangguan Serius

Skleritis bukan sekadar mata merah biasa. Peradangan pada sklera dapat menjadi tanda adanya penyakit sistemik yang memerlukan penanganan menyeluruh. Mengenali gejala lebih awal, menjalani pemeriksaan yang tepat, dan mengikuti terapi sesuai anjuran dokter merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mata serta mempertahankan kualitas penglihatan dalam jangka panjang.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Kesehatan

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti : Koroiditis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Author

Related Posts