JAKARTA, incahospital.co.id – Nyeri perut yang datang secara tiba-tiba umumnya dikaitkan dengan gangguan pencernaan, infeksi, atau masalah pada organ dalam perut. Namun, pada kondisi tertentu, nyeri tersebut justru berasal dari kelainan metabolisme yang memengaruhi sistem saraf. Salah satu penyakit yang termasuk dalam kelompok ini adalah Acute Intermittent Porphyria (AIP).
Acute Intermittent Porphyria merupakan penyakit genetik langka yang terjadi akibat gangguan pembentukan heme, yaitu komponen penting penyusun hemoglobin dalam sel darah merah. Akibat proses tersebut terganggu, berbagai zat antara yang seharusnya diolah akan menumpuk di dalam tubuh dan memicu serangan akut yang dapat memengaruhi saraf, saluran pencernaan, maupun kondisi psikologis.
Penyakit ini sering kali sulit dikenali karena gejalanya menyerupai berbagai penyakit lain. Oleh sebab itu, pemahaman mengenai tanda-tandanya menjadi langkah penting agar diagnosis tidak terlambat.
Apa Itu Acute Intermittent Porphyria?

Acute Intermittent Porphyria adalah salah satu jenis porfiria akut yang disebabkan oleh kekurangan aktivitas enzim porphobilinogen deaminase (PBGD) atau dikenal juga sebagai hydroxymethylbilane synthase (HMBS).
Gangguan enzim tersebut menyebabkan proses pembentukan heme tidak berjalan sempurna sehingga senyawa seperti aminolevulinic acid (ALA) dan porphobilinogen (PBG) menumpuk di dalam tubuh. Kedua zat tersebut bersifat toksik bagi sistem saraf sehingga dapat menimbulkan berbagai gejala neurologis.
Sebagian besar penderita membawa mutasi gen sejak lahir, tetapi tidak semua mengalami serangan sepanjang hidupnya.
Penyebab Acute Intermittent Porphyria
Penyakit ini terjadi akibat mutasi pada gen HMBS yang diwariskan secara autosomal dominan.
Walaupun seseorang telah memiliki mutasi genetik, serangan biasanya baru muncul apabila dipicu oleh faktor tertentu.
Beberapa pencetus yang sering dilaporkan meliputi:
- Konsumsi obat-obatan tertentu.
- Perubahan hormon, terutama selama siklus menstruasi.
- Puasa atau diet ekstrem.
- Infeksi.
- Stres fisik maupun emosional.
- Konsumsi alkohol.
- Kebiasaan merokok.
- Operasi atau trauma berat.
Menghindari faktor pencetus menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan penyakit.
Faktor Risiko
Beberapa kondisi diketahui dapat meningkatkan kemungkinan munculnya serangan Acute Intermittent Porphyria.
Faktor tersebut meliputi:
- Memiliki riwayat keluarga dengan porfiria.
- Perempuan usia dewasa muda.
- Perubahan hormonal.
- Penggunaan obat yang dapat memicu porfiria.
- Pola makan yang sangat rendah karbohidrat.
- Riwayat serangan porfiria sebelumnya.
Tidak semua pembawa mutasi gen akan mengalami gejala karena penyakit ini memiliki tingkat penetrasi yang bervariasi.
Gejala Acute Intermittent Porphyria
Serangan Acute Intermittent Porphyria biasanya berkembang dalam waktu singkat dan dapat berlangsung selama beberapa hari.
Gejala yang sering muncul antara lain:
- Nyeri perut hebat tanpa penyebab yang jelas.
- Mual.
- Muntah.
- Sembelit.
- Perut terasa kembung.
- Nyeri pada punggung atau tungkai.
- Detak jantung lebih cepat.
- Tekanan darah meningkat.
- Kelemahan otot.
- Kesemutan pada tangan atau kaki.
Selain keluhan fisik, gangguan sistem saraf juga dapat menimbulkan:
- Sulit berkonsentrasi.
- Gelisah.
- Cemas.
- Sulit tidur.
- Halusinasi pada sebagian kasus.
- Kejang.
- Penurunan kesadaran apabila serangan sangat berat.
Sebagai ilustrasi, seorang wanita berusia 28 tahun mengalami nyeri perut hebat yang berulang setiap beberapa bulan tanpa ditemukan kelainan pada pemeriksaan saluran cerna. Setelah dilakukan pemeriksaan kadar porphobilinogen urine saat serangan berlangsung, dokter memastikan bahwa penyebabnya adalah Acute Intermittent Porphyria.
Bagaimana Diagnosis Dilakukan?
Karena gejalanya tidak khas, diagnosis memerlukan kombinasi pemeriksaan klinis dan laboratorium.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi:
- Wawancara mengenai pola serangan dan riwayat keluarga.
- Pemeriksaan fisik.
- Pemeriksaan urine untuk mengukur kadar porphobilinogen (PBG).
- Pemeriksaan kadar aminolevulinic acid (ALA).
- Pemeriksaan darah sesuai kebutuhan.
- Analisis genetik untuk mendeteksi mutasi gen HMBS.
- Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal apabila diperlukan.
Pengambilan sampel urine saat serangan akut memberikan peluang lebih besar untuk memperoleh hasil yang akurat.
Penanganan Acute Intermittent Porphyria
Penanganan bertujuan menghentikan serangan akut sekaligus mencegah kekambuhan.
Pilihan terapi dapat meliputi:
- Pemberian hemin intravena sesuai indikasi.
- Infus glukosa pada kondisi tertentu.
- Obat pereda nyeri yang aman bagi penderita porfiria.
- Penanganan mual dan muntah.
- Penghentian obat yang menjadi pencetus.
- Terapi pencegahan pada penderita dengan serangan berulang.
Selama serangan berat, pasien biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit untuk pemantauan ketat.
Komplikasi yang Dapat Terjadi
Apabila tidak mendapatkan penanganan, Acute Intermittent Porphyria dapat menyebabkan komplikasi serius.
Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:
- Kelumpuhan otot.
- Gangguan pernapasan akibat kelemahan otot pernapasan.
- Hipertensi kronis.
- Kerusakan ginjal.
- Gangguan fungsi hati.
- Kejang.
- Gangguan saraf permanen.
- Penurunan kualitas hidup akibat serangan berulang.
Risiko komplikasi meningkat apabila diagnosis terlambat atau faktor pencetus tidak dikendalikan.
Cara Mengurangi Risiko Kekambuhan
Penderita Acute Intermittent Porphyria dapat membantu mengurangi frekuensi serangan dengan menerapkan beberapa langkah berikut:
- Menghindari obat yang dapat memicu porfiria.
- Tidak melakukan diet ekstrem.
- Mengonsumsi makanan dengan asupan karbohidrat yang cukup.
- Menghindari konsumsi alkohol.
- Berhenti merokok.
- Mengelola stres.
- Berkonsultasi sebelum mengonsumsi obat baru.
- Menjalani kontrol kesehatan secara berkala.
Pengenalan terhadap faktor pencetus merupakan bagian penting dalam pengelolaan jangka panjang.
Kapan Harus Segera ke Rumah Sakit?
Segera mencari pertolongan medis apabila mengalami:
- Nyeri perut hebat yang muncul tiba-tiba.
- Kelemahan otot yang semakin berat.
- Kesulitan bernapas.
- Kejang.
- Penurunan kesadaran.
- Gangguan perilaku atau kebingungan mendadak.
- Muntah terus-menerus hingga tidak dapat makan dan minum.
Penanganan cepat dapat membantu mencegah komplikasi neurologis yang lebih berat.
Kesimpulan
Acute Intermittent Porphyria merupakan penyakit genetik langka yang mengganggu proses pembentukan heme sehingga menyebabkan penumpukan zat yang bersifat toksik terhadap sistem saraf. Penyakit ini sering ditandai dengan serangan nyeri perut hebat, gangguan saraf, dan keluhan neurologis lainnya yang muncul secara berulang. Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan urine, analisis laboratorium, dan evaluasi genetik, sedangkan penanganan berfokus pada penghentian serangan akut serta pencegahan kekambuhan. Dengan terapi yang tepat dan pengendalian faktor pencetus, penderita dapat mengurangi risiko komplikasi dan mempertahankan kualitas hidup.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Kesehatan
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti : Acrodermatitis Enteropathica Gangguan Penyerapan Seng yang Langka
