0 Comments

JAKARTA, incahospital.co.id – Virus Marburg adalah salah satu virus paling mematikan yang pernah dikenal dunia medis. Virus ini termasuk dalam famili filovirus, satu keluarga dengan virus Ebola yang terkenal sangat berbahaya. Tingkat kematian akibat infeksi virus Marburg bisa mencapai 88 persen berdasarkan catatan WHO.

Penyakit yang disebabkan oleh virus Marburg dikenal dengan nama Marburg Virus Disease atau MVD. Hasilnya, infeksi ini menyebabkan demam berdarah yang berat dan dapat berujung pada kegagalan organ serta perdarahan masif. Meskipun kasusnya tergolong jarang, wabah virus Marburg berulang kali menelan banyak korban jiwa di berbagai negara.

Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1967, virus Marburg telah dilaporkan menyebabkan 593 kasus konfirmasi dengan 481 kematian. Dengan demikian, angka case fatality rate atau CFR virus ini mencapai 81 persen. Tingginya angka kematian ini menjadikan virus Marburg sebagai salah satu ancaman kesehatan global yang paling serius.

Sejarah dan Asal Usul Virus Marburg

Virus Marburg

Virus Marburg pertama kali ditemukan pada tahun 1967. Saat itu, wabah demam berdarah muncul secara bersamaan di laboratorium di Marburg dan Frankfurt, Jerman, serta di Beograd, Yugoslavia. Sebanyak 31 orang jatuh sakit dalam wabah awal tersebut. Tujuh orang di antaranya meninggal dunia.

Penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa sumber awal penularan adalah monyet hijau Afrika yang diimpor dari Uganda. Selain itu, para ilmuwan kemudian menemukan bahwa kelelawar buah jenis Rousettus aegyptiacus adalah inang alami utama virus Marburg. Kelelawar inilah yang menjadi sumber penularan pertama dari hewan ke manusia.

Setelah wabah pertama tersebut, kasus sporadis dan wabah baru terus dilaporkan di berbagai negara. Angola menjadi negara dengan jumlah kasus tertinggi sepanjang sejarah, yaitu 374 kasus. RD Kongo mencatat 154 kasus, sementara Jerman melaporkan 29 kasus. Selanjutnya, wabah juga muncul di Kenya, Uganda, Guinea Ekuatorial, Tanzania, dan Rwanda.

Pada tahun 2024, Rwanda menghadapi wabah virus Marburg untuk pertama kalinya dalam sejarah. Sebanyak 26 orang terinfeksi dan 8 orang meninggal. Selanjutnya, banyak dari kasus tersebut ditemukan pada petugas kesehatan yang merawat pasien yang terinfeksi.

Cara Penularan Virus Marburg

Memahami cara penularan virus Marburg adalah hal yang sangat penting untuk mencegah penyebarannya. Penularan pertama kepada manusia umumnya terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh kelelawar atau primata yang terinfeksi. Setelah itu, virus dapat menyebar dari manusia ke manusia melalui berbagai jalur.

Berikut adalah cara penularan virus Marburg yang perlu diketahui:

  • Pertama, kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh penderita. Cairan tubuh yang berpotensi menularkan virus antara lain urin, air liur, keringat, tinja, muntahan, serta cairan semen.
  • Kedua, kontak dengan selaput lendir atau kulit yang terluka. Virus masuk ke tubuh melalui mata, hidung, atau mulut yang tidak terlindungi, maupun luka terbuka pada kulit.
  • Ketiga, kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi. Pakaian, tempat tidur, jarum suntik, dan peralatan medis yang telah terpapar cairan tubuh penderita bisa menjadi jalur penularan.
  • Keempat, kontak dengan jenazah penderita. Virus Marburg tetap aktif dalam tubuh orang yang sudah meninggal. Oleh sebab itu, prosedur pemakaman tanpa protokol yang ketat sangat berisiko menularkan virus.
  • Terakhir, penularan dari pria yang sudah sembuh. Pada beberapa kasus, virus Marburg dapat bertahan di dalam semen hingga beberapa waktu setelah seseorang dinyatakan pulih. Penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman.

Perlu diketahui, virus Marburg juga dapat bertahan di plasenta, cairan ketuban, dan janin pada wanita hamil. Selain itu, virus ini bisa bertahan di dalam ASI pada ibu menyusui.

Gejala Infeksi Virus Marburg

Gejala infeksi virus Marburg muncul secara tiba-tiba setelah masa inkubasi 2 hingga 21 hari. Gejalaawal yang muncul sering kali menyerupai penyakit umum seperti malaria, tifus, atau demam berdarah dengue. Hal ini yang membuat virus Marburg sulit diidentifikasi, terutama di negara-negara dengan penyakit tersebut yang sudah umum seperti Indonesia.

Gejala awal yang biasanya muncul antara lain demam tinggi yang mendadak, sakit kepala parah, dan nyeri otot yang hebat. Selain itu, penderita juga mengalami rasa lemas yang berat, menggigil, dan tenggorokan terasa sakit. Kondisi ini berlangsung hingga hari ketiga infeksi.

Memasuki hari ketiga, gejala gastrointestinal mulai muncul. Misalnya, diare berair yang parah dan dapat berlangsung selama seminggu, kram perut, mual, serta muntah. Pada fase ini penderita tampak memiliki mata yang cekung dan wajah yang pucat tanpa ekspresi.

Sekitar hari kelima hingga ketujuh, gejala menjadi jauh lebih serius. Perdarahan mulai terjadi di berbagai bagian tubuh, antara lain mimisan dan gusi berdarah. Perdarahan pada saluran pencernaan juga terlihat dari muntah dan tinja yang berdarah. Pada kasus yang fatal, kematian umumnya terjadi antara hari kedelapan hingga kesembilan akibat kehilangan darah yang masif dan syok.

Kelompok Berisiko Tinggi Terpapar Virus Marburg

Tidak semua orang memiliki risiko yang sama terhadap infeksi virus Marburg. Ada kelompok-kelompok tertentu yang perlu lebih waspada terhadap ancaman virus ini. Mengenali kelompok berisiko membantu dalam mengambil langkah pencegahan yang lebih terarah.

Petugas kesehatan yang merawat pasien MVD termasuk kelompok paling rentan. Wabah di Rwanda tahun 2024 menjadi bukti nyata bagaimana virus ini menyebar cepat di lingkungan rumah sakit. Oleh sebab itu, penggunaan alat pelindung diri yang tepat sangat wajib dipatuhi.

Selain itu, orang yang melakukan perjalanan ke wilayah endemik di Afrika juga berisiko tinggi. Bahkan mengunjungi gua atau tambang yang dihuni kelelawar buah di negara-negara tersebut sudah cukup untuk memicu paparan awal virus. Anggota keluarga atau orang yang merawat penderita MVD di rumah pun berisiko tertular jika tidak menggunakan alat pelindung yang memadai.

Penanganan dan Pengobatan Virus Marburg

Hingga saat ini, belum ada pengobatan antivirus yang khusus untuk menyembuhkan infeksi virus Marburg. Penanganan yang tersedia bersifat suportif, yaitu membantu tubuh melewati infeksi dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Pengobatan suportif mencakup pemberian cairan melalui infus untuk mencegah dehidrasi akibat diare dan muntah yang parah. Selain itu, dokter juga menjaga keseimbangan elektrolit, memastikan asupan nutrisi yang cukup, dan mempertahankan stabilitas tanda vital tubuh. Pada kasus yang parah, pemberian oksigen tambahan mungkin diperlukan.

Terkait vaksin, saat ini belum ada vaksin yang resmi tersedia untuk virus Marburg. Dua kandidat vaksin, yaitu vaksin Strain Sabin dan vaksin Janssen, sedang menjalani uji klinis fase pertama. Dengan demikian, pencegahan tetap menjadi satu-satunya senjata utama melawan penyakit ini.

Cara Mencegah Penularan Virus Marburg

Mengingat tidak ada pengobatan atau vaksin yang efektif, pencegahan adalah langkah paling penting dalam menghadapi virus Marburg. Berikut adalah langkah-langkah pencegahan yang direkomendasikan oleh Kemenkes RI dan WHO:

  • Pertama, hindari kontak langsung dengan kelelawar buah Rousettus aegyptiacus dan habitatnya seperti gua atau tambang. Jika harus memasuki area tersebut, gunakan sarung tangan dan masker sebagai perlindungan minimal.
  • Kedua, hindari kontak dengan darah dan seluruh cairan tubuh penderita MVD. Ini berlaku baik bagi penderita yang masih hidup maupun jenazah yang meninggal karena infeksi virus ini.
  • Ketiga, cuci tangan secara rutin dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah menyentuh benda-benda yang mungkin terkontaminasi.
  • Keempat, jangan mengurus jenazah penderita MVD tanpa protokol perlindungan yang ketat. Praktik pemakaman yang melibatkan kontak fisik langsung dengan tubuh penderita sangat berisiko tinggi.
  • Terakhir, tunda atau batalkan perjalanan ke wilayah yang sedang mengalami wabah virus Marburg. Jika perjalanan tidak bisa dihindari, ikuti anjuran resmi dari Kemenkes dan WHO terkait protokol keselamatan di wilayah tersebut.

Kemenkes RI menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kasus konfirmasi virus Marburg di Indonesia. Namun demikian, kewaspadaan tetap harus dijaga mengingat Indonesia masuk dalam jalur mobilisasi kelelawar Rousettus aegyptiacus.

Kesimpulan

Virus Marburg adalah ancaman kesehatan global yang tidak boleh diabaikan. Tingkat kematian yang sangat tinggi, tidak adanya pengobatan khusus, dan kemampuan penularan antara manusia menjadikan virus ini sangat berbahaya. Oleh karena itu, memahami gejala awal dan jalur penularan virus Marburg sangat penting. Langkah pencegahan adalah tanggung jawab setiap individu untuk melindungi diri dan orang di sekitarnya. Jika mengalami gejala yang mencurigakan setelah berkunjung ke wilayah endemik, segera konsultasikan ke dokter tanpa menunda.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Kesehatan

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti : Respiratory Syncytial Virus: Gejala dan Cara Mencegah

Author

Related Posts