0 Comments

JAKARTA, incahospital.co.id – Kemampuan mendengar merupakan salah satu fungsi tubuh yang sangat penting untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Tes pendengaran menjadi prosedur medis yang dapat membantu mendeteksi gangguan pada telinga sejak dini sebelum kondisi semakin memburuk. Pemeriksaan ini tidak hanya dibutuhkan oleh orang yang sudah merasakan gangguan, tetapi juga sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin.

Gangguan pendengaran bisa menyerang siapa saja mulai dari bayi baru lahir hingga lansia dengan berbagai penyebab yang berbeda. Menurut data kesehatan, sekitar 25 persen orang di atas usia 50 tahun mengalami penurunan fungsi dengar, dan angka ini meningkat menjadi 50 persen pada usia di atas 65 tahun. Deteksi dini melalui tes pendengaran dapat membantu penanganan yang lebih efektif dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Pengertian dan Tujuan Tes Pendengaran

Tes Pendengaran

Pemeriksaan ini merupakan prosedur medis untuk mengukur kemampuan seseorang dalam mendengar suara dengan berbagai frekuensi dan tingkat volume. Tes pendengaran dilakukan menggunakan alat khusus yang dapat menghasilkan suara pada intensitas yang berbeda untuk mengevaluasi fungsi telinga secara menyeluruh. Prosedur ini umumnya dilakukan oleh dokter spesialis THT atau audiolog yang terlatih.

Tujuan utama pemeriksaan ini:

  • Mendeteksi adanya gangguan pendengaran sejak dini
  • Menentukan jenis gangguan apakah konduktif atau sensorineural
  • Mengukur tingkat keparahan penurunan pendengaran
  • Mengevaluasi kebutuhan alat bantu dengar
  • Memantau perkembangan kondisi pendengaran dari waktu ke waktu

Kondisi yang dapat dideteksi:

  • Tuli konduktif akibat sumbatan atau kerusakan telinga luar dan tengah
  • Tuli sensorineural akibat kerusakan saraf pendengaran
  • Tuli campuran yang melibatkan kedua jenis gangguan
  • Tinnitus atau dengungan di telinga
  • Gangguan keseimbangan yang berkaitan dengan telinga bagian dalam

Jenis Tes Pendengaran yang Umum Dilakukan

Terdapat berbagai metode pemeriksaan yang dapat dilakukan tergantung pada kondisi pasien dan tujuan pemeriksaan. Tes pendengaran dibedakan berdasarkan teknik dan alat yang digunakan serta informasi yang ingin didapatkan. Setiap jenis memiliki keunggulan tersendiri dalam mendeteksi masalah tertentu.

Pemeriksaan dasar yang sering dilakukan:

  • Tes bisik untuk mengukur kemampuan mendengar suara pelan
  • Pemeriksaan garpu tala melalui tes Weber dan Rinne
  • Audiometri nada murni sebagai pemeriksaan standar
  • Audiometri tutur untuk menilai pemahaman kata
  • Timpanometri untuk mengevaluasi fungsi gendang telinga

Pemeriksaan lanjutan untuk kasus tertentu:

  • Otoacoustic Emissions atau OAE untuk bayi baru lahir
  • Brainstem Evoked Response Audiometry atau BERA
  • Pemeriksaan reflex akustik untuk respons otot telinga tengah
  • Pencitraan MRI jika dicurigai ada tumor
  • Tes keseimbangan vestibular untuk gangguan vertigo

Prosedur Audiometri sebagai Tes Pendengaran Utama

Audiometri merupakan pemeriksaan paling umum yang dilakukan untuk mengevaluasi fungsi dengar secara komprehensif. Tes pendengaran jenis ini menggunakan alat bernama audiometer yang dapat menghasilkan suara dengan volume dan frekuensi yang bervariasi. Hasil pemeriksaan dicatat dalam bentuk grafik yang disebut audiogram.

Tahapan pemeriksaan audiometri:

  • Pasien duduk di ruangan kedap suara yang tenang
  • Earphone atau headphone dipasang pada kedua telinga
  • Suara dengan berbagai nada diperdengarkan ke masing masing telinga
  • Pasien diminta mengangkat tangan atau menekan tombol saat mendengar suara
  • Audiolog mencatat respons pada setiap frekuensi dan volume

Frekuensi yang diuji dalam pemeriksaan:

  • 500 Hz untuk suara bernada rendah
  • 1000 Hz untuk nada percakapan normal
  • 2000 Hz untuk suara dengan nada sedang
  • 4000 Hz untuk nada yang lebih tinggi
  • 6000 hingga 8000 Hz untuk frekuensi tinggi

Tes Pendengaran pada Bayi dan Anak

Deteksi dini gangguan pendengaran pada anak sangat penting karena berpengaruh pada perkembangan bahasa dan kognitif. Tes pendengaran untuk bayi dan anak menggunakan metode khusus yang tidak memerlukan respons aktif dari pasien. Pemeriksaan ini direkomendasikan untuk semua bayi baru lahir sebelum meninggalkan rumah sakit.

Jenis pemeriksaan untuk bayi:

  • OAE atau Otoacoustic Emissions yang mendeteksi respons koklea
  • BERA atau ABR yang mengukur aktivitas saraf pendengaran
  • Automated ABR untuk skrining cepat pada bayi baru lahir
  • Behavioral Observation Audiometry untuk bayi usia tertentu
  • Visual Reinforcement Audiometry untuk anak usia 6 bulan ke atas

Tanda gangguan pendengaran pada anak yang perlu diwaspadai:

  • Tidak terkejut saat mendengar suara keras
  • Tidak merespons saat namanya dipanggil
  • Keterlambatan dalam perkembangan bicara
  • Sering meminta orang lain mengulang perkataan
  • Volume televisi selalu diatur sangat keras

Kapan Harus Melakukan Tes Pendengaran

Mengetahui waktu yang tepat untuk memeriksakan pendengaran sangat penting agar gangguan dapat ditangani sedini mungkin. Tes pendengaran tidak hanya dilakukan saat sudah merasakan keluhan, tetapi juga sebagai upaya pencegahan dan pemantauan rutin.

Kondisi yang mengharuskan pemeriksaan segera:

  • Kesulitan memahami percakapan terutama di tempat ramai
  • Sering meminta orang lain untuk mengulang pembicaraan
  • Telinga terasa penuh atau seperti tersumbat
  • Mendengar dengungan atau bunyi berdering di telinga
  • Pusing berputar yang disertai gangguan pendengaran

Kelompok yang direkomendasikan pemeriksaan rutin:

  • Bayi baru lahir sebelum pulang dari rumah sakit
  • Anak usia sekolah sebagai skrining berkala
  • Pekerja yang terpapar kebisingan tinggi di tempat kerja
  • Orang dewasa di atas 50 tahun setiap 3 tahun
  • Pengguna obat yang berpotensi merusak pendengaran

Persiapan Sebelum Menjalani Tes Pendengaran

Meskipun pemeriksaan ini tergolong sederhana dan tidak menyakitkan, ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil akurat. Tes pendengaran memerlukan kondisi telinga yang bersih dan bebas dari gangguan sementara yang dapat mempengaruhi hasil.

Persiapan yang perlu dilakukan:

  • Hindari paparan kebisingan minimal 12 hingga 14 jam sebelum tes
  • Jangan mendengarkan musik dengan volume keras menggunakan headphone
  • Beritahu dokter tentang obat yang sedang dikonsumsi
  • Lepaskan anting, kacamata, dan aksesori yang mengganggu
  • Pastikan telinga dalam kondisi bersih dari kotoran berlebih

Hal yang sebaiknya dihindari:

  • Berada di lingkungan bising seperti dekat mesin atau genset
  • Menggunakan earphone atau headphone dalam waktu lama
  • Berenang sehari sebelum pemeriksaan
  • Mengonsumsi obat tertentu tanpa konsultasi dokter
  • Membersihkan telinga dengan cotton bud secara berlebihan

Memahami Hasil TesPendengaran

Setelah pemeriksaan selesai, audiolog akan menjelaskan hasil yang tercatat dalam audiogram. Tes pendengaran menghasilkan data berupa grafik yang menunjukkan ambang dengar pada setiap frekuensi yang diuji. Pemahaman tentang hasil ini penting untuk mengetahui kondisi pendengaran secara objektif.

Kategori tingkat pendengaran berdasarkan desibel:

  • Normal dengan ambang dengar 0 hingga 25 dB
  • Tuli ringan dengan ambang 26 hingga 40 dB
  • Tuli sedang dengan ambang 41 hingga 55 dB
  • Tuli sedang berat dengan ambang 56 hingga 70 dB
  • Tuli berat dengan ambang 71 hingga 90 dB
  • Tuli sangat berat dengan ambang di atas 90 dB

Informasi yang didapat dari hasil pemeriksaan:

  • Telinga mana yang mengalami gangguan lebih berat
  • Jenis gangguan pendengaran yang dialami
  • Frekuensi suara mana yang sulit didengar
  • Rekomendasi penanganan yang sesuai
  • Kebutuhan alat bantu dengar atau tindakan medis lain

Faktor Penyebab Gangguan Pendengaran

Memahami penyebab gangguan pendengaran membantu dalam upaya pencegahan dan penanganan yang tepat. Tes pendengaran dapat membantu mengidentifikasi jenis gangguan sehingga dokter dapat menelusuri penyebab yang mendasarinya.

Penyebab gangguan pendengaran konduktif:

  • Penumpukan kotoran telinga yang menyumbat saluran
  • Infeksi telinga tengah atau otitis media
  • Cairan yang menumpuk di belakang gendang telinga
  • Gendang telinga yang pecah atau berlubang
  • Pertumbuhan tulang abnormal seperti otosklerosis

Penyebab gangguan pendengaran sensorineural:

  • Proses penuaan atau presbikusis
  • Paparan suara keras dalam jangka panjang
  • Efek samping obat ototoksik seperti antibiotik tertentu
  • Infeksi virus seperti campak atau gondongan
  • Cedera kepala yang mempengaruhi saraf pendengaran
  • Faktor genetik atau bawaan sejak lahir

Pilihan Penanganan Setelah Tes Pendengaran

Berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter akan merekomendasikan penanganan yang sesuai dengan jenis dan tingkat keparahan gangguan. Tes pendengaran menjadi dasar untuk menentukan apakah pasien memerlukan terapi, alat bantu, atau tindakan medis tertentu.

Pilihan penanganan yang tersedia:

  • Pembersihan kotoran telinga untuk sumbatan sederhana
  • Pengobatan infeksi dengan antibiotik atau antijamur
  • Alat bantu dengar untuk gangguan ringan hingga berat
  • Implan koklea untuk tuli sangat berat
  • Operasi untuk memperbaiki struktur telinga yang rusak

Jenis alat bantu dengar yang tersedia:

  • Behind The Ear atau BTE yang dipasang di belakang telinga
  • In The Ear atau ITE yang dipasang di dalam telinga
  • In The Canal atau ITC yang lebih kecil dan tidak terlihat
  • Completely In Canal atau CIC yang sangat kecil
  • Bone Anchored Hearing Aid untuk kondisi tertentu

Tips Menjaga Kesehatan Pendengaran

Mencegah gangguan pendengaran lebih baik daripada mengobati setelah kerusakan terjadi. Tes pendengaran rutin menjadi salah satu cara untuk memantau kondisi, namun gaya hidup sehat juga berperan penting dalam menjaga fungsi dengar.

Kebiasaan baik untuk kesehatan telinga:

  • Batasi paparan suara keras di atas 85 dB
  • Gunakan pelindung telinga saat berada di lingkungan bising
  • Istirahatkan telinga setelah mendengar suara keras
  • Atur volume perangkat audio maksimal 60 persen
  • Bersihkan telinga dengan cara yang benar dan aman

Hal yang harus dihindari:

  • Memasukkan benda asing ke dalam telinga
  • Mendengarkan musik dengan headphone terlalu lama
  • Mengabaikan gejala infeksi telinga
  • Berenang di air yang tercemar tanpa pelindung
  • Menunda pemeriksaan saat merasakan gangguan

Tempat Melakukan Tes Pendengaran

Pemeriksaan ini dapat dilakukan di berbagai fasilitas kesehatan yang memiliki peralatan memadai. Tes pendengaran sebaiknya dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten untuk memastikan hasil yang akurat dan interpretasi yang tepat.

Fasilitas yang menyediakan pemeriksaan:

  • Rumah sakit dengan poliklinik THT
  • Klinik spesialis telinga hidung tenggorok
  • Laboratorium klinik yang memiliki unit audiometri
  • Pusat kesehatan pendengaran khusus
  • Klinik perusahaan untuk pemeriksaan karyawan

Pertimbangan dalam memilih tempat pemeriksaan:

  • Kelengkapan peralatan audiometri yang digunakan
  • Keahlian dan sertifikasi tenaga pemeriksa
  • Ruangan kedap suara yang sesuai standar
  • Kemampuan interpretasi hasil oleh dokter spesialis
  • Ketersediaan layanan tindak lanjut jika diperlukan

Biaya dan Asuransi untuk TesPendengaran

Pemeriksaan ini memiliki biaya yang bervariasi tergantung pada jenis tes dan fasilitas kesehatan yang dipilih. Tes pendengaran termasuk dalam kategori pemeriksaan diagnostik yang umumnya ditanggung oleh asuransi kesehatan dengan syarat tertentu.

Kisaran biaya pemeriksaan:

  • Audiometri dasar sekitar Rp 100.000 hingga Rp 300.000
  • OAE untuk bayi sekitar Rp 150.000 hingga Rp 400.000
  • BERA atau ABR sekitar Rp 500.000 hingga Rp 1.500.000
  • Timpanometri sekitar Rp 100.000 hingga Rp 250.000
  • Paket pemeriksaan lengkap bervariasi sesuai rumah sakit

Informasi terkait asuransi:

  • BPJS Kesehatan menanggung dengan rujukan dari faskes pertama
  • Asuransi swasta biasanya mencakup pemeriksaan diagnostik
  • Medical check up perusahaan sering menyertakan audiometri
  • Beberapa klinik menawarkan paket pemeriksaan dengan harga khusus
  • Konsultasikan terlebih dahulu dengan pihak asuransi

Kesimpulan

Tes pendengaran merupakan prosedur penting yang dapat mendeteksi gangguan pada telinga sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih efektif. Pemeriksaan ini tersedia dalam berbagai jenis mulai dari audiometri dasar hingga pemeriksaan lanjutan seperti OAE dan BERA yang disesuaikan dengan usia dan kondisi pasien. Deteksi dini sangat penting terutama pada bayi dan anak karena gangguan pendengaran dapat mempengaruhi perkembangan bahasa dan kognitif. Hasil tes pendengaran membantu dokter menentukan jenis gangguan, tingkat keparahan, dan pilihan penanganan yang tepat mulai dari terapi obat hingga penggunaan alat bantu dengar atau tindakan operasi. Menjaga kesehatan pendengaran melalui gaya hidup sehat dan menghindari paparan suara keras berlebihan sama pentingnya dengan melakukan pemeriksaan rutin untuk memantau kondisi telinga secara berkala.

Baca Juga Konten dengan Artikel Terkait Tentang: Kesehatan

Baca juga artikel lainnya: Latihan Mobilitas: Manfaat dan Gerakan Terbaik untuk Tubuh

Author

Related Posts