0 Comments

JAKARTA, incahospital.co.id – Bipolar disorder adalah gangguan mental yang menyebabkan perubahan suasana hati secara ekstrem. Kondisi ini membuat penderita bergantian mengalami dua fase berlawanan. Selain itu, fase mania membuat penderita merasa sangat bersemangat dan bahagia berlebihan. Di sisi lain, fase depresi membuat penderita merasa sangat sedih dan kehilangan semangat hidup. Dengan demikian, gangguan ini jauh berbeda dari sekadar naik-turunnya suasana hati yang dialami orang pada umumnya.

Menurut data World Health Organization (WHO), sekitar 45 juta orang di seluruh dunia mengidap bipolar disorder. Selain itu, gangguan ini bisa muncul pada siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, maupun latar belakang sosial. Oleh karena itu, memahami gejala dan cara penanganan bipolar disorder sangat penting. Langkah ini berguna untuk menjaga kesehatan mental diri sendiri maupun orang-orang terdekat.

Apa Itu Bipolar Disorder

Bipolar Disorder

Bipolar disorder adalah gangguan kesehatan mental jangka panjang. Kondisi ini ditandai dengan perubahan suasana hati, energi, dan kemampuan berpikir yang tidak terkendali. Selain itu, perubahan ini bisa terjadi dalam hitungan jam, hari, atau bahkan bulan tergantung pada tipe dan tingkat keparahannya. Dengan demikian, kondisi ini sangat memengaruhi kemampuan penderita untuk menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.

Banyak orang masih sering menyamakan bipolar disorder dengan depresi biasa. Padahal, keduanya adalah kondisi yang berbeda. Pada depresi biasa, penderita hanya mengalami satu arah perubahan suasana hati, yaitu ke arah kesedihan. Selanjutnya, pada bipolar disorder, penderita juga mengalami fase mania atau hipomania yang merupakan kebalikan dari depresi, yaitu perasaan sangat berenergi dan euforia yang tidak wajar. Di sisi lain, jika dibiarkan tanpa penanganan, bipolar disorder dapat mengganggu hubungan sosial, produktivitas kerja, bahkan meningkatkan risiko tindakan berbahaya pada penderitanya.

Kebanyakan penderita bipolar disorder pertama kali didiagnosis saat remaja atau memasuki usia 20-an. Selain itu, diagnosis yang terlambat sangat umum terjadi karena gejala awalnya sering disalahartikan sebagai perubahan perilaku biasa pada masa tumbuh kembang.

Tipe-Tipe Bipolar Disorder

Bipolar disorder tidak hadir dalam satu bentuk yang sama pada setiap penderita. Selain itu, para ahli kesehatan mental membagi kondisi ini ke dalam beberapa tipe berdasarkan pola dan tingkat keparahan gejalanya. Dengan demikian, pemahaman tentang tipe-tipe bipolar disorder sangat membantu dalam menentukan penanganan yang paling tepat.

Tipe pertama adalah Bipolar Disorder tipe I, yaitu tipe yang paling berat. Pada tipe ini, penderita mengalami setidaknya satu episode mania penuh yang berlangsung minimal tujuh hari dan cukup parah hingga mengganggu fungsi sehari-hari. Selain itu, episode mania pada tipe ini bisa disertai gejala psikosis seperti halusinasi atau delusi. Kondisi ini butuh penanganan segera di fasilitas kesehatan.

Tipe kedua adalah Bipolar Disorder tipe II, yaitu tipe yang lebih ringan dari tipe pertama. Selain itu, pada tipe ini penderita mengalami setidaknya satu episode depresi berat dan satu episode hipomania, yaitu mania tingkat rendah yang tidak sampai mengganggu fungsi sosial secara total. Di sisi lain, Bipolar Disorder tipe II sering lebih sulit terdeteksi. Fase hipomanianya tampak seperti semangat yang wajar bagi orang-orang di sekitar penderita.

Tipe ketiga adalah Siklotimia, yaitu varian bipolar disorder dengan gejala yang lebih ringan dan berlangsung minimal dua tahun. Selanjutnya, ada pula tipe keempat yang disebut Bipolar Disorder yang Tidak Terklasifikasi, yaitu kondisi di mana penderita menunjukkan perubahan suasana hati yang tidak biasa namun tidak memenuhi semua kriteria tipe I, II, maupun siklotimia.

Penyebab Bipolar Disorder

Para ahli hingga saat ini belum menemukan satu penyebab tunggal yang pasti untuk bipolar disorder. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini kemungkinan besar muncul akibat gabungan dari beberapa faktor yang saling berkaitan. Dengan demikian, memahami faktor-faktor risiko ini sangat penting untuk mengenali siapa saja yang lebih rentan mengalami gangguan ini.

Faktor pertama adalah keturunan atau genetik. Seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan riwayat bipolar disorder memiliki risiko 15 hingga 30 persen lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama. Bahkan, risiko itu bisa mencapai 50 hingga 75 persen jika kedua orang tua sama-sama menderita bipolar disorder.

Faktor kedua adalah ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak. Selain itu, kadar neurotransmitter seperti noradrenalin, serotonin, dan dopamin yang tidak seimbang diyakini berperan besar dalam memicu episode mania maupun depresi. Di sisi lain, beberapa penelitian juga menemukan perubahan fisik pada struktur otak penderita bipolar disorder yang berbeda dari otak orang sehat.

Faktor ketiga adalah pengalaman traumatis atau tekanan emosional yang berat. Selanjutnya, peristiwa hidup yang penuh tekanan juga bisa memicu episode pertama. Kehilangan orang yang dicintai, putus hubungan, atau kegagalan besar sangat berisiko bagi seseorang yang sudah memiliki bawaan genetik gangguan bipolar disorder. Terakhir, kebiasaan mengonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang juga diketahui sebagai pemicu yang mempercepat munculnya gejala bipolar disorder.

Berikut ringkasan faktor yang meningkatkan risiko bipolar disorder:

  • Pertama, riwayat keluarga atau keturunan dengan kondisi bipolar disorder atau gangguan mental lainnya.
  • Kedua, ketidakseimbangan zat kimia otak seperti noradrenalin, serotonin, dan dopamin.
  • Ketiga, trauma masa kecil atau pengalaman emosional yang sangat berat dan tidak terselesaikan.
  • Keempat, tekanan hidup yang intens seperti kehilangan pekerjaan, perceraian, atau kematian orang terdekat.
  • Terakhir, kebiasaan mengonsumsi alkohol berlebihan atau penggunaan obat-obatan terlarang secara rutin.

Gejala Bipolar Disorder pada Fase Mania

Gejala bipolar disorder sangat bergantung pada fase yang sedang dialami penderita. Selain itu, setiap fase memiliki tanda-tanda yang sangat berbeda satu sama lain sehingga penting untuk mengenali keduanya secara terpisah. Dengan demikian, mengenali gejala sejak awal bisa sangat membantu dalam mendapatkan penanganan yang tepat waktu.

Fase mania adalah kondisi di mana penderita merasa sangat bersemangat, berenergi tinggi, dan penuh percaya diri yang berlebihan. Selain itu, pada fase ini penderita sering merasa tidak butuh tidur selama berhari-hari namun tetap merasa segar. Oleh karena itu, perilaku yang terlihat dari luar sering tampak seperti seseorang yang sedang sangat produktif, padahal kondisi ini sebenarnya tidak terkendali dan berbahaya.

Berikut gejala utama yang muncul pada fase mania:

  • Pertama, perasaan sangat bahagia, euforia, dan penuh semangat yang berlebihan tanpa alasan yang jelas.
  • Kedua, berbicara sangat cepat, pikiran bergerak sangat lincah, dan sulit untuk diarahkan dalam satu topik pembicaraan.
  • Ketiga, kebutuhan tidur berkurang drastis namun tetap merasa berenergi penuh selama berhari-hari.
  • Keempat, mengambil keputusan besar secara impulsif seperti membelanjakan uang dalam jumlah besar tanpa pertimbangan matang.
  • Terakhir, pada kasus berat, penderita bisa mengalami psikosis berupa halusinasi atau delusi yang membutuhkan penanganan segera.

Gejala Bipolar Disorder pada Fase Depresi

Fase depresi adalah kebalikan penuh dari fase mania dan sering kali jauh lebih sulit untuk dijalani oleh penderita. Selain itu, pada fase ini penderita merasa sangat sedih, kosong, dan kehilangan minat terhadap semua hal yang sebelumnya mereka sukai. Dengan demikian, fase ini sangat memengaruhi kemampuan penderita untuk bekerja, bersosialisasi, dan merawat diri sendiri.

Berbeda dari depresi biasa, depresi pada bipolar disorder sering kali terjadi setelah fase mania yang sangat intens. Selain itu, perubahan mendadak dari kondisi yang sangat aktif ke kondisi yang sangat lesu ini bisa sangat membingungkan bagi penderita maupun orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, dukungan dari keluarga dan tenaga ahli sangat penting dalam fase ini.

Berikut gejala utama yang muncul pada fase depresi bipolar disorder:

  • Pertama, perasaan sangat sedih, hampa, dan tidak berdaya yang berlangsung terus-menerus selama setidaknya dua minggu.
  • Kedua, kehilangan minat dan kesenangan terhadap aktivitas yang sebelumnya sangat disukai, termasuk hobi dan interaksi sosial.
  • Ketiga, kelelahan ekstrem, gerakan melambat, dan pikiran yang terasa berat serta sulit berkonsentrasi.
  • Keempat, perubahan pola tidur yang drastis, bisa berupa tidur terlalu banyak atau justru tidak bisa tidur sama sekali.
  • Terakhir, dalam kasus yang serius, muncul pikiran tentang kematian atau keinginan untuk menyakiti diri sendiri yang butuh penanganan segera.

Cara Mendiagnosis Bipolar Disorder

Mendiagnosis bipolar disorder tidak bisa dilakukan secara mandiri karena gejalanya sering tumpang tindih dengan kondisi mental lainnya. Selain itu, dokter atau psikiater perlu melakukan serangkaian wawancara mendalam dan pemeriksaan untuk memastikan diagnosis yang tepat. Dengan demikian, konsultasi dengan tenaga profesional adalah langkah pertama yang wajib dilakukan jika muncul tanda-tanda yang mencurigakan.

Proses diagnosis biasanya dimulai dengan sesi wawancara di mana dokter menanyakan gejala, riwayat kesehatan, dan riwayat kesehatan keluarga. Selanjutnya, penderita mungkin diminta mengisi kuesioner kesehatan mental untuk membantu memetakan pola perubahan suasana hati. Di sisi lain, pemeriksaan fisik dan tes laboratorium seperti tes darah juga perlu dilakukan untuk memastikan gejala bukan disebabkan oleh kondisi medis lain seperti gangguan tiroid.

Diagnosis bipolar disorder ditegakkan berdasarkan kriteria dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Selain itu, dokter akan menilai apakah penderita sudah mengalami setidaknya satu episode mania atau hipomania dalam jangka waktu tertentu. Oleh karena itu, penting untuk tidak malu atau ragu dalam menyampaikan seluruh gejala yang dirasakan kepada tenaga kesehatan.

Pengobatan dan Penanganan Bipolar Disorder

Bipolar disorder adalah kondisi yang bisa dikelola dengan baik melalui penanganan yang tepat dan konsisten. Selain itu, banyak penderita yang sudah mendapat penanganan yang sesuai berhasil menjalani hidup produktif dan normal seperti orang-orang pada umumnya. Dengan demikian, diagnosis bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan menuju hidup yang lebih stabil.

Penanganan utama bipolar disorder mencakup dua jalur besar, yaitu pemberian obat-obatan dan psikoterapi yang dijalankan secara bersamaan. Selain itu, obat penyeimbang suasana hati seperti litium adalah yang paling umum diresepkan untuk mencegah episode mania maupun depresi kambuh. Di sisi lain, obat antipsikotik dan antidepresan juga kadang diberikan tergantung pada tipe dan tingkat keparahan gejala yang dialami penderita.

Berikut pilihan penanganan yang tersedia untuk penderita bipolar disorder:

  • Pertama, obat penyeimbang suasana hati seperti litium dan karbamazepin untuk mencegah kekambuhan episode mania dan depresi dalam jangka panjang.
  • Kedua, psikoterapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk membantu penderita mengenali pola pikir negatif dan menggantinya dengan respons yang lebih sehat.
  • Ketiga, Interpersonal and Social Rhythm Therapy (IPSRT) yang membantu penderita membangun jadwal tidur dan rutinitas harian yang lebih teratur.
  • Keempat, Electroconvulsive Therapy (ECT) yang dilakukan dengan anestesi untuk kasus gejala sangat berat yang tidak merespons pengobatan biasa.
  • Terakhir, dukungan psikososial melalui psikoedukasi bagi penderita dan keluarga untuk memahami kondisi, mengenali tanda kekambuhan, dan tahu cara merespons dengan tepat.

Tips Hidup Stabil dengan Bipolar Disorder

Menjalani hidup dengan bipolar disorder membutuhkan kedisiplinan dan dukungan dari berbagai pihak. Selain itu, ada banyak langkah mandiri yang bisa dilakukan penderita untuk membantu menstabilkan kondisi mereka di luar jadwal konsultasi dengan dokter. Dengan demikian, gaya hidup yang sehat dan teratur adalah bagian tak terpisahkan dari penanganan bipolar disorder yang menyeluruh.

Menjaga pola tidur yang konsisten adalah salah satu kunci paling penting. Selain itu, kurang tidur terbukti menjadi pemicu utama episode mania pada banyak penderita bipolar disorder. Oleh karena itu, usahakan tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, bahkan di akhir pekan sekalipun. Di sisi lain, menghindari alkohol dan kafein berlebihan juga sangat dianjurkan karena keduanya dapat memperburuk ketidakstabilan suasana hati.

Berikut tips mandiri untuk hidup lebih stabil dengan bipolar disorder:

  • Pertama, jaga jadwal tidur yang teratur dan pastikan mendapat istirahat cukup setiap malam tanpa terkecuali.
  • Kedua, minum obat sesuai resep dokter secara rutin dan jangan pernah berhenti mendadak tanpa saran tenaga medis.
  • Ketiga, catat perubahan suasana hati setiap hari untuk membantu mengenali pola dan tanda-tanda awal kekambuhan.
  • Keempat, kelola stres secara aktif melalui meditasi, olahraga ringan, atau kegiatan kreatif yang disukai.
  • Terakhir, bangun sistem dukungan yang kuat dengan bergabung dalam komunitas sesama penyintas atau berbagi cerita dengan orang terdekat yang dipercaya.

Kesimpulan

Bipolar disorder adalah kondisi kesehatan mental yang nyata dan bisa dikelola dengan penanganan yang tepat. Selain itu, stigma negatif di masyarakat tidak seharusnya menghalangi siapa pun untuk mencari bantuan profesional ketika mulai merasakan tanda-tandanya. Dengan demikian, semakin cepat kondisi ini dikenali dan ditangani, semakin besar peluang penderita untuk menjalani hidup yang stabil, produktif, dan bermakna. Jika ada tanda-tanda yang mencurigakan pada diri sendiri atau orang terdekat, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan psikiater atau tenaga kesehatan mental yang terpercaya.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Kesehatan

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti : Henipavirus: Gejala, Penularan, dan Cara Pencegahannya

Author

Related Posts