JAKARTA, incahospital.co.id – Pernahkah membayangkan kesulitan menelan makanan bahkan sekadar air putih? Kondisi inilah yang dialami oleh penderita akalasia setiap harinya. Gangguan pada sistem pencernaan bagian atas ini memang tergolong langka, namun dampaknya terhadap kualitas hidup sangat signifikan.
Banyak orang tidak menyadari bahwa kesulitan menelan yang mereka alami bukan sekadar masalah biasa. Keterlambatan diagnosis akalasia sering terjadi karena gejalanya mirip dengan kondisi lain seperti GERD atau tukak lambung. Pemahaman yang baik tentang penyakit ini menjadi kunci untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat.
Mengenal Akalasia dan Mekanisme Terjadinya

Akalasia merupakan kondisi di mana otot kerongkongan bagian bawah gagal berelaksasi saat proses menelan. Dalam kondisi normal, otot sphincter esofagus bawah akan terbuka untuk membiarkan makanan masuk ke lambung. Pada penderita akalasia, otot ini tetap menegang sehingga makanan tertahan di kerongkongan.
Gangguan ini terjadi akibat kerusakan pada sel saraf di dinding kerongkongan. Sel saraf tersebut bertanggung jawab mengirimkan sinyal agar otot sphincter membuka pada waktu yang tepat. Ketika sel saraf rusak atau mati, koordinasi gerakan otot kerongkongan menjadi terganggu.
Selain kegagalan relaksasi sphincter, akalasia juga ditandai dengan hilangnya gerakan peristaltik kerongkongan. Gerakan peristaltik berfungsi mendorong makanan dari mulut menuju lambung. Tanpa gerakan ini, makanan hanya mengandalkan gravitasi untuk turun ke bawah.
Berdasarkan pola gangguan gerakannya, akalasia dibedakan menjadi tiga tipe:
- Tipe I dengan kerongkongan yang melebar dan tidak ada kontraksi sama sekali
- Tipe II dengan kontraksi yang terjadi bersamaan di seluruh kerongkongan
- Tipe III dengan kontraksi spastik yang tidak terkoordinasi
Penyebab dan Faktor Risiko Akalasia
Hingga saat ini, penyebab pasti akalasia belum diketahui secara jelas. Para peneliti menduga ada kombinasi faktor genetik dan lingkungan yang berperan. Beberapa teori menyebutkan keterlibatan sistem autoimun dalam merusak sel saraf kerongkongan.
Infeksi virus diduga menjadi salah satu pemicu pada individu yang memiliki kerentanan genetik. Virus herpes simpleks dan virus varicella zoster sering dikaitkan dengan perkembangan akalasia. Namun hubungan sebab akibat langsung masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Faktor risiko yang diidentifikasi terkait dengan kondisi akalasia meliputi:
- Riwayat keluarga dengan gangguan autoimun
- Usia antara 25 hingga 60 tahun meski bisa terjadi di segala usia
- Kondisi autoimun lain seperti lupus atau sindrom Sjogren
- Paparan infeksi virus tertentu sebelumnya
- Kelainan genetik langka seperti sindrom Allgrove
Menariknya, akalasia tidak menunjukkan preferensi berdasarkan jenis kelamin. Pria dan wanita memiliki risiko yang sama untuk mengembangkan kondisi ini. Prevalensinya diperkirakan sekitar satu dari 100.000 orang per tahun.
Gejala Akalasia yang Sering Diabaikan
Disfagia atau kesulitan menelan menjadi keluhan utama yang dialami hampir semua penderita akalasia. Awalnya kesulitan hanya terjadi saat menelan makanan padat. Seiring waktu, bahkan cairan pun menjadi sulit untuk ditelan dengan lancar.
Regurgitasi atau naiknya makanan yang tidak tercerna ke mulut juga sangat umum terjadi. Berbeda dengan muntah biasa, regurgitasi pada akalasia tidak disertai kontraksi perut. Makanan yang naik terasa hambar karena belum tercampur asam lambung.
Penurunan berat badan signifikan kerap menyertai perjalanan penyakit. Penderita cenderung mengurangi porsi makan karena ketidaknyamanan saat menelan. Beberapa bahkan menghindari makan di tempat umum karena malu dengan kondisinya.
Gejala lain yang perlu diwaspadai sebagai tanda akalasia antara lain:
- Nyeri dada yang terasa seperti terbakar atau tertekan
- Batuk terutama di malam hari akibat aspirasi makanan
- Sensasi makanan tersangkut di tenggorokan atau dada
- Cegukan berulang yang sulit dihentikan
- Bau mulut tidak sedap akibat fermentasi makanan di kerongkongan
- Pneumonia berulang karena makanan masuk ke saluran napas
Proses Diagnosis Akalasia oleh Dokter
Dokter akan memulai dengan anamnesis mendalam tentang riwayat keluhan pasien. Durasi gejala, pola kesulitan menelan, dan gejala penyerta menjadi informasi penting. Pemeriksaan fisik umumnya tidak menunjukkan temuan spesifik untuk akalasia.
Esofagografi atau pemeriksaan rontgen dengan kontras barium menjadi langkah diagnostik awal. Gambaran khas akalasia berupa kerongkongan yang melebar dengan penyempitan di bagian bawah menyerupai paruh burung. Pemeriksaan ini relatif mudah dilakukan dan tidak invasif.
Endoskopi saluran cerna atas diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan sumbatan mekanis. Prosedur ini memungkinkan dokter melihat langsung kondisi kerongkongan dan lambung. Biopsi jaringan juga bisa dilakukan untuk memastikan tidak ada keganasan.
Manometri esofagus menjadi gold standard untuk diagnosis definitif akalasia. Pemeriksaan ini mengukur tekanan dan koordinasi kontraksi otot kerongkongan secara detail. Hasil manometri juga membantu menentukan tipe akalasia yang dialami pasien.
Rangkaian pemeriksaan yang umumnya dilakukan untuk menegakkan diagnosis meliputi:
- Pemeriksaan darah lengkap untuk menilai kondisi umum
- Esofagografi barium untuk melihat bentuk kerongkongan
- Endoskopi untuk visualisasi langsung dan biopsi
- Manometri esofagus resolusi tinggi untuk konfirmasi diagnosis
- CT scan jika dicurigai ada massa atau keganasan
Pilihan PengobatanAkalasia yang Tersedia
Sayangnya belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan akalasia secara total. Semua modalitas terapi bertujuan melegakan gejala dengan membuka sphincter esofagus bawah. Pemilihan metode pengobatan disesuaikan dengan kondisi dan preferensi pasien.
Dilatasi pneumatik merupakan prosedur non bedah yang cukup efektif. Balon khusus dimasukkan ke kerongkongan dan dikembangkan untuk meregangkan otot sphincter. Prosedur ini bisa diulang jika gejala muncul kembali setelah beberapa waktu.
Injeksi toksin botulinum langsung ke otot sphincter memberikan hasil yang cepat namun temporer. Toksin ini melumpuhkan otot sehingga bisa berelaksasi. Efeknya bertahan sekitar enam bulan hingga satu tahun sebelum perlu injeksi ulang.
Pilihan terapi yang tersedia untuk mengatasi akalasia meliputi:
- Dilatasi pneumatik dengan tingkat keberhasilan 70 hingga 90 persen
- Injeksi botox untuk pasien yang tidak bisa menjalani prosedur invasif
- Myotomi Heller secara laparoskopi sebagai terapi bedah standar
- POEM atau Per Oral Endoscopic Myotomy sebagai teknik terbaru
- Terapi obat oral untuk kasus ringan atau sebagai jembatan sebelum tindakan
Myotomi Heller sebagai Terapi Bedah Akalasia
Myotomi Heller menjadi prosedur bedah yang paling banyak dilakukan untuk akalasia. Operasi ini memotong serat otot sphincter esofagus bawah agar tidak lagi menegang berlebihan. Pendekatan laparoskopi membuat pemulihan lebih cepat dibanding operasi terbuka.
Prosedur ini biasanya dikombinasikan dengan fundoplikasi parsial. Fundoplikasi mencegah terjadinya refluks asam lambung setelah sphincter dipotong. Tanpa fundoplikasi, risiko GERD pasca operasi meningkat signifikan.
Tingkat keberhasilan myotomi Heller mencapai 85 hingga 95 persen dalam melegakan disfagia. Sebagian besar pasien melaporkan perbaikan dramatis dalam kemampuan menelan. Hasil jangka panjang juga menunjukkan durabilitas yang baik hingga belasan tahun.
Dokter bedah akan mempertimbangkan beberapa faktor sebelum merekomendasikan operasi:
- Tipe akalasia berdasarkan hasil manometri
- Riwayat pengobatan sebelumnya dan responsnya
- Usia dan kondisi kesehatan umum pasien
- Anatomi kerongkongan dari hasil pemeriksaan
- Ketersediaan fasilitas dan keahlian di pusat kesehatan
POEM Teknik Terbaru Penanganan Akalasia
Per Oral Endoscopic Myotomy atau POEM menjadi inovasi terkini dalam terapi akalasia. Prosedur ini dilakukan melalui endoskopi tanpa sayatan di kulit. Dokter membuat terowongan di bawah lapisan mukosa kerongkongan untuk mencapai otot yang bermasalah.
Keunggulan POEM terletak pada sifatnya yang minimal invasif namun tetap efektif. Pasien umumnya hanya perlu rawat inap satu hingga dua hari. Nyeri pasca prosedur juga lebih ringan dibandingkan operasi konvensional.
Hasil penelitian menunjukkan efektivitas POEM setara dengan myotomi Heller laparoskopi. Beberapa studi bahkan melaporkan keunggulan POEM untuk akalasia tipe III yang sulit ditangani. Teknik ini khususnya bermanfaat untuk pasien yang pernah menjalani operasi sebelumnya.
Namun POEM juga memiliki keterbatasan yang perlu dipertimbangkan:
- Risiko refluks gastroesofageal lebih tinggi tanpa fundoplikasi
- Memerlukan keahlian khusus yang belum tersedia di semua rumah sakit
- Data jangka panjang masih lebih terbatas dibanding myotomi Heller
- Biaya prosedur yang relatif mahal
- Tidak semua pasien merupakan kandidat yang sesuai
Pola Hidup untuk PenderitaAkalasia
Modifikasi cara makan sangat membantu meringankan gejala sehari hari. Mengunyah makanan hingga benar benar halus memudahkan proses penelanan. Minum air di sela sela suapan juga membantu mendorong makanan turun.
Posisi tubuh saat dan setelah makan perlu diperhatikan. Duduk tegak selama makan dan tetap dalam posisi tersebut minimal 30 menit setelahnya. Hindari langsung berbaring karena meningkatkan risiko regurgitasi dan aspirasi.
Pemilihan jenis makanan juga berpengaruh terhadap kenyamanan penderita akalasia. Makanan dengan tekstur lembut dan berkuah lebih mudah ditelan. Hindari makanan yang lengket, berserat kasar, atau terlalu kering.
Tips praktis lainnya untuk mengelola kehidupan dengan akalasia:
- Makan dalam porsi kecil tapi sering sepanjang hari
- Hindari makan terlalu cepat dan terburu buru
- Batasi konsumsi alkohol dan kafein yang bisa memperburuk gejala
- Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi menggunakan bantal tambahan
- Kelola stres karena bisa mempengaruhi fungsi kerongkongan
- Kontrol rutin ke dokter untuk memantau perkembangan kondisi
Kesimpulan
Akalasia memang merupakan kondisi kronis yang tidak bisa disembuhkan secara permanen, namun bukan berarti kualitas hidup penderitanya tidak bisa diperbaiki. Berbagai pilihan terapi mulai dari dilatasi pneumatik, injeksi botox, hingga prosedur bedah seperti myotomi Heller dan POEM mampu memberikan perbaikan signifikan. Kunci utamanya terletak pada diagnosis dini sebelum kerongkongan mengalami kerusakan lebih lanjut. Bagi siapa pun yang mengalami kesulitan menelan berkepanjangan, segera berkonsultasi dengan dokter spesialis gastroenterologi untuk evaluasi lebih lanjut. Penanganan yang tepat akan membantu penderita akalasia menjalani kehidupan yang lebih nyaman dan berkualitas.
Temukan Topik lainnya tentang: Kesehatan
Rekomendasi Artikel Menarik Lainnya: Sindrom Dumping Jadi Gangguan Lambung yang Perlu Diwaspadai
Jelajahi Website Resmi Kami: https://oca-animstudio.com/
