0 Comments

JAKARTA, incahospital.co.id – Sesak napas, mengi, dan batuk berulang merupakan keluhan yang identik dengan asma. Namun, tidak semua asma memiliki mekanisme peradangan yang sama. Pada sebagian penderita, sel darah putih bernama eosinofil berperan dominan dalam mempertahankan peradangan di saluran pernapasan. Kondisi tersebut dikenal sebagai Eosinophilic Asthma atau asma eosinofilik.

Jenis asma ini dapat menimbulkan gejala yang sulit dikendalikan, serangan berulang, serta kebutuhan pengobatan yang lebih intensif pada sebagian penderita. Eosinophilic Asthma juga dapat muncul pada usia dewasa meskipun sebelumnya tidak memiliki riwayat asma sejak kecil.

Mengenali karakteristik penyakit menjadi penting karena perkembangan terapi saat ini memungkinkan pengobatan diarahkan pada jalur peradangan tertentu. Artinya, penanganan tidak hanya berfokus pada meredakan sesak, tetapi juga mengendalikan mekanisme yang mempertahankan peradangan saluran napas.

Eosinophilic Asthma Terjadi ketika Eosinofil Berperan dalam Peradangan

Eosinophilic Asthma

Eosinofil merupakan salah satu jenis sel darah putih yang secara normal terlibat dalam sistem kekebalan tubuh, termasuk respons terhadap parasit dan proses alergi tertentu.

Pada Eosinophilic Asthma, eosinofil dapat ditemukan dalam jumlah meningkat di darah atau jaringan saluran napas. Sel tersebut melepaskan berbagai mediator peradangan yang kemudian menyebabkan dinding saluran napas mengalami pembengkakan dan menjadi lebih sensitif.

Peradangan yang menetap dapat membuat bronkus mudah menyempit ketika terpapar pemicu tertentu. Akibatnya, aliran udara menuju dan keluar dari paru-paru terganggu.

Namun, kadar eosinofil yang meningkat saja tidak otomatis berarti seseorang mengalami asma eosinofilik. Hasil laboratorium tetap harus dinilai bersama gejala, pemeriksaan fungsi paru, riwayat penyakit, serta kemungkinan penyebab peningkatan eosinofil lainnya.

Eosinophilic Asthma Tidak Selalu Sama dengan Asma Alergi

Asma alergi biasanya berkaitan erat dengan paparan alergen tertentu, seperti tungau debu, serbuk sari, bulu hewan, atau zat lain yang memicu respons alergi.

Eosinophilic Asthma dapat memiliki karakteristik berbeda. Sebagian penderita memang memiliki alergi, tetapi sebagian lainnya tidak menunjukkan hubungan yang jelas dengan alergen.

Beberapa karakteristik yang dapat ditemukan antara lain:

  • Gejala muncul saat usia dewasa.
  • Serangan asma terjadi berulang.
  • Keluhan sulit dikendalikan dengan terapi standar pada sebagian pasien.
  • Terdapat peradangan eosinofilik.
  • Dapat disertai gangguan hidung dan sinus.
  • Fungsi paru dapat mengalami penurunan.

Karakteristik setiap penderita tetap berbeda sehingga penentuan fenotipe asma membutuhkan evaluasi medis.

Eosinophilic Asthma Menimbulkan Keluhan yang Bisa Mengganggu Aktivitas

Gejala dasarnya menyerupai bentuk asma lainnya. Perbedaannya lebih banyak terletak pada mekanisme peradangan dan pola perjalanan penyakit.

Keluhan yang dapat muncul meliputi:

  • Sesak napas.
  • Mengi atau napas berbunyi.
  • Batuk berulang.
  • Dada terasa berat atau tertekan.
  • Mudah kehabisan napas saat beraktivitas.
  • Gejala yang memburuk pada malam atau dini hari.
  • Serangan asma yang berulang.

Sebagian penderita juga memiliki keluhan pada saluran napas bagian atas, seperti hidung tersumbat berkepanjangan, peradangan sinus kronis, atau polip hidung.

Gejala yang sering kambuh meskipun terapi sudah digunakan dengan benar menjadi salah satu alasan untuk melakukan evaluasi lebih mendalam.

Eosinophilic Asthma Dapat Dipengaruhi Berbagai Pemicu

Serangan dapat muncul setelah saluran napas terpapar faktor yang meningkatkan iritasi atau peradangan.

Pemicu dapat berbeda pada setiap penderita, tetapi beberapa yang sering ditemukan adalah:

  • Infeksi saluran pernapasan.
  • Asap rokok.
  • Polusi udara.
  • Udara dingin.
  • Aktivitas fisik tertentu.
  • Paparan zat iritan di tempat kerja.
  • Alergen pada penderita yang juga memiliki alergi.
  • Penggunaan obat tertentu pada individu yang sensitif.

Mengenali pola kekambuhan dapat membantu mengurangi paparan yang sebenarnya dapat dihindari.

Eosinophilic Asthma Memerlukan Pemeriksaan Lebih dari Sekadar Mendengar Mengi

Tidak terdapat satu pemeriksaan tunggal yang dapat menjelaskan seluruh karakteristik penyakit. Dokter biasanya menggabungkan riwayat gejala dengan pemeriksaan fungsi paru dan penanda peradangan.

Evaluasi dapat mencakup:

  1. Menelusuri frekuensi dan tingkat keparahan serangan.
  2. Memeriksa riwayat penggunaan obat asma.
  3. Melakukan spirometri untuk menilai fungsi paru.
  4. Mengukur jumlah eosinofil dalam darah.
  5. Menilai kadar oksida nitrat dalam udara yang diembuskan pada kondisi tertentu.
  6. Melakukan pemeriksaan alergi apabila terdapat indikasi.
  7. Mengevaluasi penyakit hidung atau sinus yang menyertai.
  8. Menyingkirkan penyebab lain dari peningkatan eosinofil.

Pada kondisi tertentu, pemeriksaan dahak dapat digunakan untuk menilai jumlah eosinofil secara lebih langsung, meskipun tidak selalu tersedia dalam pelayanan rutin.

Eosinophilic Asthma Perlu Dinilai dari Tingkat Pengendaliannya

Asma yang belum terkendali tidak selalu berarti obat yang diberikan tidak efektif. Sebelum meningkatkan terapi, dokter perlu mengevaluasi beberapa hal penting.

Hal yang biasanya diperiksa mencakup:

  • Ketepatan teknik penggunaan inhaler.
  • Kepatuhan terhadap pengobatan.
  • Frekuensi penggunaan obat pereda.
  • Paparan asap rokok atau iritan.
  • Penyakit penyerta.
  • Kemungkinan diagnosis lain yang menyerupai asma.

Teknik inhaler yang kurang tepat dapat menyebabkan obat tidak mencapai saluran napas secara optimal. Karena itu, evaluasi sederhana tersebut memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan pengobatan.

Eosinophilic Asthma Ditangani dengan Mengendalikan Peradangan

Kortikosteroid inhalasi menjadi bagian penting terapi pengendali pada banyak penderita asma. Obat ini membantu menekan peradangan saluran napas sehingga risiko munculnya gejala dan serangan dapat berkurang.

Berdasarkan tingkat penyakit, dokter dapat mempertimbangkan kombinasi beberapa terapi, seperti:

  • Kortikosteroid inhalasi.
  • Bronkodilator kerja panjang dalam kombinasi yang sesuai.
  • Obat pereda sesuai rencana terapi.
  • Obat tambahan untuk mengendalikan peradangan pada kondisi tertentu.
  • Terapi biologis untuk asma berat dengan karakteristik yang memenuhi kriteria.

Pengobatan harus disesuaikan secara individual. Terapi yang efektif bagi satu penderita belum tentu memberikan hasil yang sama pada penderita lainnya.

Eosinophilic Asthma Berat Dapat Memanfaatkan Terapi yang Lebih Terarah

Salah satu perkembangan penting dalam penanganan asma berat adalah hadirnya terapi biologis. Obat ini dirancang untuk menargetkan bagian tertentu dari proses imun yang mempertahankan peradangan.

Pada asma eosinofilik berat, dokter dapat mempertimbangkan terapi yang memengaruhi jalur interleukin tertentu atau mekanisme biologis lain berdasarkan karakteristik pasien.

Sebelum terapi tersebut diberikan, beberapa aspek perlu dievaluasi, seperti:

  • Riwayat serangan asma.
  • Jumlah eosinofil.
  • Penggunaan kortikosteroid.
  • Fungsi paru.
  • Pengobatan yang telah dijalani.
  • Penyakit penyerta.
  • Karakteristik peradangan.

Terapi biologis bukan pengganti seluruh pengobatan asma dan tidak digunakan secara sembarangan. Pemilihannya membutuhkan penilaian dokter yang menangani asma berat.

Eosinophilic Asthma Membutuhkan Strategi Pencegahan Kekambuhan

Pengendalian jangka panjang tidak hanya bergantung pada obat. Kebiasaan sehari-hari turut menentukan seberapa sering penderita berhadapan dengan pemicu.

Beberapa langkah yang dapat diterapkan meliputi:

  • Menggunakan obat pengendali sesuai jadwal.
  • Memastikan teknik inhaler sudah benar.
  • Menghindari asap rokok.
  • Mengurangi paparan iritan yang diketahui memperburuk gejala.
  • Menjaga aktivitas fisik sesuai kemampuan dan anjuran tenaga kesehatan.
  • Mengikuti kontrol rutin.
  • Memiliki rencana tindakan ketika gejala memburuk.
  • Mengelola penyakit hidung atau sinus yang menyertai.

Menghentikan obat pengendali hanya karena gejala sedang membaik dapat meningkatkan risiko kekambuhan. Perubahan terapi sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter.

Eosinophilic Asthma Bisa Berubah Menjadi Kondisi Darurat

Serangan asma berat dapat berkembang cepat dan membutuhkan pertolongan segera.

Tanda bahaya yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Sesak napas berat.
  • Sulit berbicara dalam kalimat lengkap.
  • Obat pereda tidak memberikan respons seperti biasanya.
  • Napas menjadi sangat cepat atau semakin sulit.
  • Bibir atau ujung jari tampak kebiruan.
  • Kesadaran menurun.
  • Tubuh tampak sangat lelah ketika bernapas.

Pada keadaan tersebut, penderita membutuhkan evaluasi medis segera dan tidak sebaiknya hanya menunggu gejala mereda di rumah.

Kesimpulan

Eosinophilic Asthma merupakan bentuk asma yang ditandai oleh keterlibatan eosinofil dalam proses peradangan saluran napas. Penyakit ini dapat menyebabkan batuk, mengi, sesak napas, serta serangan berulang dan pada sebagian penderita memiliki perjalanan yang lebih berat.

Diagnosis membutuhkan evaluasi menyeluruh, termasuk pemeriksaan fungsi paru, riwayat serangan, kadar eosinofil, dan penilaian terhadap faktor lain yang dapat memengaruhi pengendalian asma. Pengobatan dapat mencakup terapi inhalasi hingga terapi biologis pada pasien tertentu.

Pengendalian yang konsisten, teknik penggunaan inhaler yang tepat, penghindaran pemicu, serta evaluasi berkala menjadi bagian penting untuk mengurangi serangan dan mempertahankan fungsi pernapasan dalam jangka panjang.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Kesehatan

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti : Chronic Urticaria: Biduran Menahun yang Bisa Kambuh Tanpa Diduga

Author

Related Posts