JAKARTA, incahospital.co.id – Sistem kekebalan tubuh bergantung pada berbagai jenis sel darah putih untuk melindungi tubuh dari infeksi. Salah satu kelompok sel darah putih yang memiliki peran penting adalah granulosit, terutama neutrofil, yang bertugas melawan bakteri dan jamur penyebab penyakit. Ketika jumlah granulosit menurun hingga sangat rendah, kemampuan tubuh dalam melawan infeksi ikut menurun secara drastis. Kondisi inilah yang dikenal sebagai Agranulositosis.
Agranulositosis merupakan kelainan darah yang tergolong serius karena infeksi ringan sekalipun dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Penyakit ini dapat muncul secara tiba-tiba akibat efek samping obat, gangguan pada sumsum tulang, penyakit autoimun, maupun kondisi medis lainnya.
Diagnosis yang cepat dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi serta meningkatkan peluang kesembuhan.
Apa Itu Agranulositosis?

Agranulositosis adalah kondisi ketika jumlah granulosit, terutama neutrofil, dalam darah turun hingga berada pada tingkat yang sangat rendah. Granulosit merupakan bagian dari sistem imun bawaan yang berfungsi mengenali dan menghancurkan mikroorganisme penyebab infeksi.
Pada orang sehat, neutrofil menjadi jenis sel darah putih yang paling banyak ditemukan dalam sirkulasi darah. Ketika jumlahnya berkurang secara signifikan, tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi yang berkembang dengan cepat.
Agranulositosis dapat bersifat sementara maupun menetap, tergantung pada penyebab yang mendasarinya.
Penyebab Agranulositosis
Berbagai kondisi dapat menyebabkan produksi granulosit menurun atau mempercepat penghancurannya.
Beberapa penyebab yang paling sering meliputi:
- Efek samping obat-obatan tertentu.
- Kemoterapi untuk kanker.
- Terapi radiasi.
- Penyakit autoimun.
- Gangguan sumsum tulang.
- Leukemia.
- Anemia aplastik.
- Infeksi virus tertentu.
- Kekurangan vitamin B12 atau folat pada kondisi tertentu.
Obat-obatan menjadi salah satu penyebab tersering Agranulositosis didapat, sehingga pemantauan darah diperlukan pada penggunaan beberapa jenis obat tertentu.
Faktor Risiko
Seseorang memiliki risiko lebih tinggi mengalami Agranulositosis apabila memiliki kondisi berikut:
- Sedang menjalani kemoterapi.
- Menggunakan obat yang diketahui dapat menurunkan jumlah neutrofil.
- Berusia lanjut.
- Memiliki penyakit autoimun.
- Mengalami kelainan darah.
- Pernah mengalami Agranulositosis sebelumnya.
- Memiliki gangguan fungsi sumsum tulang.
Keberadaan faktor risiko tidak selalu menyebabkan Agranulositosis, tetapi meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi tersebut.
Gejala Agranulositosis
Gejala umumnya muncul akibat infeksi yang berkembang ketika tubuh kehilangan kemampuan melawan kuman.
Keluhan yang sering ditemukan meliputi:
- Demam tinggi.
- Menggigil.
- Nyeri tenggorokan.
- Sariawan yang sulit sembuh.
- Gusi bengkak atau berdarah.
- Luka yang mudah terinfeksi.
- Batuk.
- Sesak napas apabila terjadi infeksi paru.
- Tubuh terasa sangat lemah.
Pada beberapa kasus, infeksi dapat berkembang sangat cepat menjadi sepsis sehingga memerlukan penanganan darurat.
Sebagai contoh, seseorang yang baru mengonsumsi obat tertentu mengalami demam tinggi dan nyeri tenggorokan beberapa hari kemudian. Pemeriksaan darah menunjukkan jumlah neutrofil yang sangat rendah sehingga dokter mendiagnosis Agranulositosis akibat efek samping obat.
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Dokter akan menggabungkan informasi dari riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi:
- Hitung darah lengkap.
- Hitung jenis leukosit.
- Pemeriksaan kadar neutrofil absolut (Absolute Neutrophil Count/ANC).
- Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal bila diperlukan.
- Kultur darah apabila dicurigai terjadi infeksi.
- Aspirasi atau biopsi sumsum tulang pada kondisi tertentu.
- Pemeriksaan untuk mencari penyebab autoimun atau infeksi.
Hasil pemeriksaan membantu menentukan penyebab sekaligus memilih terapi yang paling sesuai.
Penanganan Agranulositosis
Pengobatan bertujuan meningkatkan jumlah granulosit, mengatasi infeksi, serta menghilangkan faktor penyebab.
Pilihan terapi dapat meliputi:
- Menghentikan obat penyebab apabila memungkinkan.
- Antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri.
- Obat antijamur bila terdapat infeksi jamur.
- Pemberian Granulocyte Colony-Stimulating Factor (G-CSF) sesuai indikasi.
- Perawatan di rumah sakit untuk kasus berat.
- Penanganan penyakit yang mendasari.
Selama masa pengobatan, penderita biasanya memerlukan pemantauan ketat terhadap jumlah sel darah putih.
Komplikasi yang Dapat Terjadi
Tanpa penanganan yang cepat, Agranulositosis dapat menyebabkan komplikasi serius.
Beberapa komplikasi meliputi:
- Infeksi bakteri berat.
- Infeksi jamur invasif.
- Sepsis.
- Syok septik.
- Gagal organ.
- Kematian apabila infeksi tidak segera ditangani.
Risiko komplikasi meningkat apabila jumlah neutrofil sangat rendah dan berlangsung dalam waktu lama.
Upaya Pencegahan
Tidak semua kasus Agranulositosis dapat dicegah. Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi risikonya:
- Menggunakan obat sesuai petunjuk dokter.
- Menjalani pemeriksaan darah berkala apabila menggunakan obat berisiko.
- Menjaga kebersihan tangan.
- Menghindari kontak dengan orang yang sedang mengalami infeksi.
- Menjaga kebersihan mulut.
- Segera memeriksakan diri apabila muncul demam saat jumlah sel darah putih rendah.
Pencegahan terutama difokuskan pada deteksi dini agar infeksi dapat ditangani sebelum berkembang menjadi kondisi yang berat.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Segera cari pertolongan medis apabila mengalami:
- Demam mencapai 38°C atau lebih.
- Menggigil tanpa sebab yang jelas.
- Nyeri tenggorokan berat.
- Luka yang bernanah.
- Sariawan yang luas.
- Sesak napas.
- Demam setelah menjalani kemoterapi atau mengonsumsi obat tertentu.
Pada penderita Agranulositosis, demam merupakan tanda yang tidak boleh diabaikan karena dapat menjadi gejala awal infeksi serius.
Kesimpulan
Agranulositosis adalah kelainan darah yang ditandai dengan penurunan granulosit, terutama neutrofil, sehingga kemampuan tubuh melawan infeksi menurun secara drastis. Kondisi ini dapat disebabkan oleh efek samping obat, gangguan sumsum tulang, penyakit autoimun, maupun terapi kanker. Diagnosis yang cepat melalui pemeriksaan darah dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi seperti sepsis. Dengan pengobatan yang sesuai serta pemantauan rutin, banyak penderita dapat pulih dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Kesehatan
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti : Chrononutrition Atur Waktu Makan untuk Mendukung Kesehatan
