0 Comments

JAKARTA, incahospital.co.id – Gangguan kesehatan mata dapat muncul dalam berbagai bentuk, salah satunya berupa pertumbuhan jaringan abnormal pada permukaan bola mata. Pterygium menjadi kondisi yang cukup umum terjadi di negara tropis seperti Indonesia, terutama pada mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Meskipun bukan termasuk sel kanker dan jarang menimbulkan bahaya serius, kondisi ini tetap memerlukan perhatian karena dapat mengganggu penglihatan jika dibiarkan berkembang tanpa penanganan yang tepat.

Masyarakat Indonesia sendiri memiliki prevalensi pterygium yang cukup tinggi, yaitu sekitar 8,3 persen dengan angka tertinggi ditemukan di Provinsi Bali. Wilayah yang terletak di sekitar garis khatulistiwa memang lebih berisiko karena paparan sinar matahari yang intens sepanjang tahun. Memahami kondisi ini secara menyeluruh akan membantu masyarakat mengenali gejala awal dan mengambil langkah pencegahan yang tepat.

Mengenal Pterygium dan Proses Terbentuknya

pterygium

Pterygium berasal dari bahasa Yunani “pterygos” yang berarti sayap, sesuai dengan bentuk jaringan yang menyerupai sayap pada permukaan mata. Kondisi ini ditandai dengan tumbuhnya jaringan berbentuk segitiga pada konjungtiva, yaitu selaput bening yang melapisi bagian putih bola mata. Jaringan tersebut biasanya muncul di sudut mata dekat hidung dan dapat meluas ke arah tengah mata hingga mencapai kornea.

Proses terbentuknya pterygium sering diawali dengan munculnya pinguecula, yaitu bintik kekuningan pada bagian putih mata akibat penumpukan protein, lemak, atau kalsium. Seiring waktu, pinguecula dapat berkembang menjadi jaringan berwarna merah muda dengan tekstur sedikit menonjol. Jaringan fibrovaskular ini terdiri dari serat ikat dan pembuluh darah yang tumbuh dari limbus ke arah kornea secara perlahan.

Masyarakat awam sering menyebut pterygium dengan istilah “lemak mata” karena penampakannya yang menyerupai lapisan lemak. Meskipun sebenarnya tidak mengandung lemak, istilah ini cukup populer di kalangan masyarakat. Kondisi ini dapat terjadi pada salah satu mata saja atau menyerang kedua mata sekaligus.

Penyebab dan Pemicu Munculnya Pterygium

Penyebab pasti pterygium hingga saat ini belum dapat dipastikan secara ilmiah. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan sinar ultraviolet (UV) dalam jangka panjang menjadi pemicu utama kondisi ini. Radiasi UV dapat menyebabkan kerusakan pada DNA sel-sel konjungtiva, yang kemudian memicu pertumbuhan jaringan abnormal pada permukaan mata.

Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami pterygium meliputi:

  • Paparan sinar matahari berlebihan dalam waktu lama
  • Bekerja atau beraktivitas di luar ruangan tanpa pelindung mata
  • Tinggal di wilayah tropis atau dekat garis khatulistiwa
  • Kondisi cuaca panas, kering, dan berdebu
  • Paparan asap, polusi udara, dan angin secara terus-menerus
  • Kondisi mata kering yang tidak tertangani
  • Kekurangan vitamin A dalam tubuh
  • Pertambahan usia di atas 60 tahun
  • Riwayat keluarga dengan kondisi serupa

Pekerja lapangan seperti petani, nelayan, tukang bangunan, dan peselancar memiliki risiko lebih tinggi terkena pterygium. Hal ini disebabkan oleh intensitas paparan sinar UV dan kondisi lingkungan kerja yang keras terhadap kesehatan mata.

Gejala Pterygium dari Tahap Awal hingga Lanjut

Pterygium pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala yang berarti sehingga banyak penderita tidak menyadari kondisi mereka. Gejala minimal yang muncul biasanya hanya berupa mata kering ringan atau rasa tidak nyaman yang samar. Seiring perkembangan penyakit, keluhan akan semakin terasa dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Gejala umum yang dialami penderita pterygium antara lain:

  • Mata merah yang berulang pada area pertumbuhan jaringan
  • Rasa gatal, perih, atau seperti terbakar pada mata
  • Sensasi mengganjal seolah ada benda asing di dalam mata
  • Mata berair secara berlebihan
  • Penglihatan kabur atau buram
  • Pandangan ganda terutama jika jaringan sudah mencapai kornea
  • Kesulitan atau ketidaknyamanan saat menggunakan lensa kontak
  • Perubahan bentuk mata yang terlihat secara kosmetik

Pada kondisi yang lebih parah, pterygium dapat menyebabkan penekanan pada kornea sehingga terjadi distorsi dan menimbulkan astigmatisme atau mata silinder. Jika jaringan terus tumbuh hingga menutupi pupil, penglihatan akan terganggu secara serius karena cahaya yang masuk ke mata terhalang.

Cara Dokter Mendiagnosis Pterygium

Proses diagnosis pterygium tergolong mudah dan dapat dilakukan melalui pemeriksaan mata secara langsung. Dokter akan mengamati pertumbuhan jaringan pada permukaan bola mata untuk memastikan kondisi yang dialami pasien. Pemeriksaan ini biasanya dilengkapi dengan wawancara medis mengenai gejala, riwayat pekerjaan, dan kebiasaan beraktivitas di luar ruangan.

Dokter mata umumnya menggunakan slit lamp exam untuk memeriksa kondisi secara lebih detail. Alat ini berupa mikroskop khusus yang memfokuskan celah cahaya terang pada mata sehingga dokter dapat melihat bagian depan dan dalam mata dengan jelas. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat menentukan ukuran, lokasi, dan tingkat keparahan pterygium.

Beberapa tes penunjang yang mungkin dilakukan untuk diagnosis pterygium meliputi:

  • Tes ketajaman visual untuk mengukur kemampuan penglihatan
  • Tes lapang pandang untuk mengetahui jangkauan penglihatan
  • Keratometri untuk mengukur radius kelengkungan kornea
  • Topografi kornea untuk melihat bentuk dan kekuatan kornea
  • Pengambilan foto mata secara berkala untuk memantau pertumbuhan jaringan
  • Tes sonde untuk membedakan pterygium dengan pseudopterygium

Pemeriksaan berkala sangat penting dilakukan untuk memantau perkembangan pterygium dan menentukan waktu yang tepat untuk penanganan lebih lanjut jika diperlukan.

Pilihan Pengobatan untuk MengatasiPterygium

Pengobatan pterygium disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi dan gejala yang dialami pasien. Pada tahap awal ketika jaringan masih kecil dan tidak menimbulkan keluhan berarti, dokter mungkin hanya menyarankan pengawasan berkala tanpa pengobatan khusus. Pasien akan diminta untuk melindungi mata dari paparan sinar matahari dengan menggunakan topi dan kacamata hitam saat berada di luar ruangan.

Jika pterygium mulai menimbulkan gejala seperti iritasi, mata merah, atau rasa tidak nyaman, dokter dapat meresepkan beberapa obat berikut:

  • Air mata buatan atau lubrikan mata untuk menjaga kelembapan
  • Obat tetes mata dengan kandungan kortikosteroid untuk mengurangi peradangan
  • Salep mata untuk melumasi dan menenangkan kornea
  • Obat tetes vasokonstriktor untuk mengurangi kemerahan
  • Kombinasi antibiotik dan steroid untuk kasus dengan infeksi

Perlu dipahami bahwa obat-obatan tersebut hanya berfungsi meredakan gejala dan memperlambat pertumbuhan pterygium. Obat tidak dapat menyembuhkan atau menghilangkan jaringan yang sudah terbentuk. Satu-satunya cara untuk menghilangkan pterygium secara total yaitu melalui prosedur bedah.

Prosedur Operasi untuk Mengangkat Pterygium

Tindakan operasi direkomendasikan ketika pterygium sudah mengganggu penglihatan, tidak merespons pengobatan dengan baik, atau terus tumbuh secara agresif ke arah kornea. Dokter juga dapat menyarankan operasi untuk alasan kosmetik jika pasien merasa terganggu dengan penampilan matanya. Sebaiknya pterygium diangkat sebelum mencapai kornea untuk mencegah terbentuknya jaringan parut permanen.

Prosedur operasi pterygium berlangsung sekitar 30 hingga 45 menit dengan bius lokal. Beberapa teknik operasi yang tersedia meliputi:

  1. Bare Sclera Technique: Jaringan pterygium diangkat dan area sklera dibiarkan terbuka. Teknik ini memiliki risiko kekambuhan cukup tinggi, yaitu sekitar 24 hingga 89 persen.
  2. Conjunctival Autograft: Jaringan pterygium diangkat kemudian diganti dengan jaringan konjungtiva sehat yang diambil dari bagian lain mata pasien. Teknik ini memiliki tingkat kekambuhan paling rendah, yaitu sekitar 2 persen.
  3. Amniotic Membrane Transplantation: Area bekas pengangkatan pterygium ditutup dengan membran amniotik dari plasenta. Teknik ini juga efektif mengurangi risiko kekambuhan.

Setelah operasi, pasien akan diberikan obat tetes mata untuk mencegah infeksi dan meredakan peradangan. Pemantauan rutin dilakukan selama sekitar satu tahun untuk memastikan proses penyembuhan berjalan baik dan mendeteksi kemungkinan kekambuhan sejak dini.

Langkah MencegahPterygium Sejak Dini

Pencegahan pterygium dapat dilakukan dengan mengurangi paparan berbagai pemicu yang dapat merusak jaringan mata. Perlindungan terhadap sinar UV menjadi langkah paling penting mengingat radiasi matahari menjadi penyebab utama kondisi ini. Berikut beberapa upaya pencegahan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  • Gunakan kacamata hitam dengan perlindungan UVA dan UVB setiap berada di luar ruangan
  • Kenakan topi bertepi lebar untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung ke mata
  • Hindari aktivitas di luar ruangan pada jam 10 pagi hingga 2 siang ketika sinar UV paling kuat
  • Istirahatkan mata di tempat teduh setelah beraktivitas di luar
  • Gunakan air mata buatan secara teratur untuk menjaga kelembapan mata
  • Hindari paparan asap, debu, dan polusi udara sebisa mungkin
  • Gunakan pelindung mata saat bekerja di lingkungan berdebu atau berangin
  • Konsumsi makanan kaya vitamin A untuk menjaga kesehatan mata
  • Lakukan pemeriksaan mata rutin setiap 1 hingga 2 tahun sekali

Bagi mereka yang sudah memiliki riwayat pterygium atau pernah menjalani operasi pengangkatan, langkah pencegahan di atas menjadi semakin penting untuk mencegah kekambuhan. Membatasi paparan berbagai pemicu dapat memperlambat pertumbuhan jaringan dan menjaga kondisi mata tetap stabil.

Kesimpulan

Pterygium merupakan kondisi mata yang ditandai dengan pertumbuhan jaringan berbentuk segitiga pada permukaan bola mata. Meskipun bukan penyakit berbahaya, kondisi ini dapat mengganggu penglihatan jika dibiarkan berkembang tanpa penanganan. Paparan sinar UV, debu, asap, dan kondisi mata kering menjadi pemicu utama yang perlu dihindari. Pengobatan dengan obat tetes mata dapat meredakan gejala, namun operasi menjadi satu-satunya cara untuk menghilangkan pterygium secara total. Pencegahan melalui penggunaan kacamata hitam dan topi serta menjaga kelembapan mata sangat penting dilakukan terutama bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Pemeriksaan mata secara rutin juga membantu mendeteksi kondisi ini sejak dini sebelum menimbulkan gangguan penglihatan yang lebih serius.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Kesehatan

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Manfaat Kunyit untuk Kesehatan Tubuh yang Wajib Diketahui

Author

Related Posts