JAKARTA, incahospital.co.id – Komplikasi penyakit diabetes melitus dapat menyerang berbagai organ tubuh, termasuk sistem saraf. Neuropati diabetik menjadi salah satu kondisi serius yang dialami sekitar 50 persen penderita diabetes tipe 1 maupun tipe 2. Kerusakan saraf akibat kadar gula darah tidak terkontrol ini dapat menimbulkan rasa nyeri, kesemutan, hingga mati rasa yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kondisi ini berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun sehingga banyak penderita baru menyadari ketika kerusakan saraf sudah terjadi. Memahami penyebab, gejala, dan penanganan yang tepat menjadi kunci penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Artikel ini mengulas secara lengkap tentang gangguan saraf akibat diabetes beserta langkah pencegahan yang dapat dilakukan.
Memahami Kondisi Neuropati Diabetik

Gangguan saraf pada penderita diabetes terjadi ketika kadar gula darah tinggi melemahkan dinding pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi ke saraf. Proses kerusakan ini berlangsung bertahap selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.
Saraf yang mengalami kerusakan tidak dapat mengirim sinyal dengan baik ke seluruh tubuh. Akibatnya, penderita mengalami berbagai keluhan mulai dari rasa baal, kesemutan, nyeri, hingga gangguan fungsi organ dalam. Kondisi ini paling sering menyerang saraf di bagian tungkai bawah, kaki, lengan, dan tangan.
Neuropati diabetik juga dapat terjadi di organ dalam seperti jantung, lambung, usus, dan kandung kemih. Sifat sel saraf yang rusak bersifat permanen sehingga tidak dapat kembali seperti semula. Oleh karena itu, penanganan bertujuan untuk mencegah dan memperlambat kerusakan lebih lanjut.
Jenis Neuropati Diabetik yang Perlu Diketahui
Secara umum, terdapat empat jenis gangguan saraf akibat diabetes yang dapat terjadi pada penderita:
- Neuropati perifer menyerang saraf di tungkai, kaki, lengan, dan tangan dengan gejala kesemutan, mati rasa, serta nyeri tajam
- Neuropati otonom mengenai saraf yang mengatur fungsi organ dalam seperti jantung, sistem pencernaan, kandung kemih, dan organ reproduksi
- Neuropati proksimal memengaruhi saraf di paha, pinggul, bokong, dan kaki dengan gejala kelemahan otot dan nyeri hebat
- Neuropati fokal menyerang saraf tunggal pada wajah, batang tubuh, lengan, atau kaki secara mendadak
Neuropati perifer menjadi jenis yang paling sering terjadi pada penderita diabetes. Gejala biasanya dimulai dari ujung jari kaki dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya jika tidak mendapat penanganan yang tepat.
Penyebab dan Faktor Risiko Neuropati Diabetik
Kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol dalam waktu lama menjadi penyebab utama kerusakan saraf pada penderita diabetes. Glukosa berlebih dalam darah merusak dinding pembuluh darah kecil yang memasok nutrisi ke saraf sehingga fungsinya terganggu.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya gangguan saraf meliputi:
- Kadar gula darah puasa dan HbA1C yang tinggi dalam jangka panjang
- Riwayat menderita diabetes selama bertahun-tahun tanpa kontrol yang baik
- Kebiasaan merokok yang mempersempit dan mengeraskan pembuluh darah
- Kelebihan berat badan dengan indeks massa tubuh di atas 25
- Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol
- Kadar kolesterol dan trigliserida tinggi dalam darah
- Penyakit ginjal akibat komplikasi diabetes
- Konsumsi alkohol secara berlebihan
Kombinasi faktor-faktor tersebut menghasilkan radikal bebas yang merusak DNA dan meningkatkan kondisi peradangan pada sel saraf. Penderita dengan beberapa faktor risiko sekaligus memiliki kemungkinan lebih besar mengalami neuropati diabetik.
Gejala yang Muncul Akibat Neuropati Diabetik
Manifestasi klinis gangguan saraf pada penderita diabetes sangat bervariasi tergantung jenis dan lokasi saraf yang terkena. Gejala umumnya berkembang secara perlahan sehingga sering tidak disadari pada tahap awal.
Tanda-tanda neuropati perifer yang paling sering dijumpai meliputi:
- Mati rasa atau berkurangnya kemampuan merasakan sentuhan dan perubahan suhu
- Perasaan kesemutan atau terbakar di kaki dan tangan
- Nyeri tajam seperti ditusuk atau kram terutama pada malam hari
- Kelemahan otot yang menyebabkan kesulitan berjalan
- Sensitivitas berlebihan terhadap sentuhan ringan
- Luka pada kaki yang tidak disadari dan sulit sembuh
Gejala neuropati otonom dapat berupa gangguan pada berbagai sistem organ:
- Pusing atau pingsan saat berdiri akibat penurunan tekanan darah
- Detak jantung tidak teratur dan mudah lelah
- Mual, muntah, kembung, dan gangguan pencernaan lainnya
- Kesulitan buang air kecil atau inkontinensia
- Disfungsi seksual pada pria dan wanita
- Gangguan penglihatan terutama saat malam hari
Diagnosis Komplikasi NeuropatiDiabetik
Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan diagnosis gangguan saraf akibat diabetes. Proses diagnosis dimulai dengan wawancara mengenai gejala yang dialami dan riwayat penyakit diabetes.
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menilai kondisi saraf meliputi:
- Kekuatan dan tonus otot secara keseluruhan
- Refleks tendon pada lutut dan pergelangan kaki
- Sensitivitas terhadap sentuhan, getaran, dan perubahan suhu
- Kondisi kaki untuk melihat adanya luka atau kelainan
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis antara lain:
- Tes filamen menggunakan serat nilon lembut untuk menguji kepekaan saraf terhadap sentuhan
- Tes sensorik untuk mengukur respons saraf terhadap getaran dan perubahan suhu
- Pemeriksaan konduksi saraf untuk mengukur kecepatan transmisi sinyal listrik melalui saraf
- Elektromiografi untuk menilai aktivitas listrik otot dan respons terhadap rangsangan saraf
- Pemeriksaan kadar HbA1C untuk mengetahui kontrol gula darah dalam 2-3 bulan terakhir
Penanganan Medis untuk Neuropati Diabetik
Mengontrol kadar gula darah menjadi langkah terpenting dalam penanganan gangguan saraf pada penderita diabetes. Meskipun tidak dapat menyembuhkan saraf yang sudah rusak, kontrol gula darah yang baik mencegah kerusakan lebih lanjut dan memperlambat perkembangan penyakit.
Target kontrol gula darah yang dianjurkan meliputi:
- Kadar HbA1C di bawah 7 persen
- Gula darah puasa kurang dari 130 mg/dl
- Gula darah setelah makan di bawah 180 mg/dl
Untuk meredakan keluhan nyeri dan kesemutan, dokter dapat meresepkan beberapa jenis obat:
- Antidepresan seperti amitriptyline dan duloxetine yang memengaruhi sinyal nyeri di otak
- Antikejang seperti gabapentin, pregabalin, dan carbamazepine untuk mengurangi aktivitas saraf berlebih
- Pereda nyeri topikal berupa koyo atau krim lidokain yang ditempelkan pada kulit
- Opioid seperti tramadol untuk kasus nyeri berat yang tidak responsif terhadap obat lain
Terapi non-obat juga dapat membantu mengurangi keluhan:
- Transcutaneous Nerve Stimulation (TENS) untuk meredakan nyeri
- Fisioterapi dengan latihan peregangan, penguatan, dan keseimbangan
- Akupunktur sebagai terapi komplementer
- Terapi cahaya infrared untuk memperbaiki sirkulasi darah
Pencegahan Komplikasi NeuropatiDiabetik
Mencegah kerusakan saraf lebih baik daripada mengobati kondisi yang sudah terjadi. Penderita diabetes dapat melakukan berbagai upaya untuk mengurangi risiko neuropati:
- Mengonsumsi obat diabetes secara teratur sesuai anjuran dokter
- Memeriksakan kadar gula darah puasa setiap bulan dan HbA1C setiap 2-3 bulan
- Melakukan latihan jasmani minimal 30 menit sehari sebanyak empat kali seminggu
- Mengatur pola makan dengan memperbanyak serat dan mengurangi lemak
- Menjaga berat badan dalam rentang normal
- Berhenti merokok dan menghindari alkohol
- Mengontrol tekanan darah dan kadar kolesterol
Perawatan kaki yang baik juga penting untuk mencegah komplikasi:
- Memeriksa kondisi kaki setiap hari untuk mendeteksi luka atau kelainan
- Menggunakan alas kaki yang nyaman dan tidak menyebabkan lecet
- Menjaga kebersihan dan kelembapan kulit kaki
- Memotong kuku kaki dengan hati-hati untuk menghindari luka
- Segera memeriksakan diri ke dokter jika menemukan luka pada kaki
Kesimpulan
Neuropati diabetik merupakan komplikasi serius yang dapat dicegah dengan kontrol gula darah yang baik sejak dini. Kerusakan saraf yang terjadi bersifat permanen sehingga penanganan bertujuan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan meredakan gejala yang muncul. Penderita diabetes perlu rutin memeriksakan kondisi saraf dan segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami keluhan kesemutan, nyeri, atau mati rasa yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Baca Juga Konten dengan Artikel Terkait Tentang: Kesehatan
Baca juga artikel lainnya: Sarkoma Kaposi: Kanker Langka pada Pembuluh Darah
Berikut Website Resmi Kami: Dingdongtogel
