0 Comments

Jakarta, incahospital.co.id – Setiap pagi, banyak orang bangun dengan tubuh yang terlihat baik-baik saja. Tidak demam, Tidak batuk. Tidak ada luka yang tampak. Tapi di dalam kepala, ceritanya bisa sangat berbeda. Ada rasa lelah yang tidak hilang meski sudah tidur, Ada cemas yang muncul tanpa sebab jelas. Ada pikiran yang terus berputar, bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.

Di sinilah mental wellbeing bekerja, atau justru terganggu.

Sebagai pembawa berita yang sering mengikuti isu kesehatan, saya melihat satu perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Orang mulai berani bicara soal kesehatan mental. Tapi berani bicara belum tentu paham sepenuhnya. Banyak yang masih menyamakan mental wellbeing dengan “tidak stres” atau “tidak sedih”.

Padahal mental wellbeing jauh lebih kompleks. Ia bukan kondisi statis. Ia naik turun, Ia dipengaruhi pekerjaan, hubungan, media sosial, ekonomi, bahkan hal-hal kecil seperti kurang tidur atau komentar orang lain.

Saya pernah bertemu seorang pekerja muda yang terlihat sukses di luar. Karier naik, gaji stabil. Tapi ia berkata pelan, “Aku capek, tapi nggak tahu capek kenapa.” Kalimat itu sederhana, tapi mewakili banyak orang.

Mental well being bukan soal selalu bahagia. Ia soal kemampuan menghadapi hidup dengan sadar, seimbang, dan cukup kuat untuk bangkit saat goyah.

Apa Itu Mental Wellbeing dan Mengapa Penting

Mental Wellbeing

Mental well being adalah kondisi di mana seseorang mampu mengenali emosi, mengelola stres, menjalin hubungan yang sehat, dan menjalani hidup dengan rasa makna. Bukan berarti hidupnya masalah, tapi ia punya kapasitas untuk menghadapinya.

Banyak orang mengira mental well being hanya urusan psikolog atau psikiater. Padahal, mental well being adalah urusan semua orang. Sama pentingnya dengan makan sehat atau olahraga.

Mental well being memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Cara bekerja. Cara memperlakukan orang lain. Bahkan cara memandang diri sendiri.

Ketika mental well being terganggu, hal-hal kecil bisa terasa berat. Pekerjaan sederhana jadi melelahkan. Interaksi sosial terasa menguras energi. Fokus mudah buyar.

Saya pernah melihat data dari berbagai laporan kesehatan nasional yang menunjukkan peningkatan keluhan terkait stres, kecemasan, dan kelelahan mental, terutama di usia produktif. Ini bukan tren sesaat. Ini sinyal.

Tanpa mental wellbeing yang baik, kualitas hidup menurun pelan-pelan. Bukan dramatis, tapi konsisten.

Mental Wellbeing dan Tekanan Hidup Modern

Hidup di era modern membawa kemudahan, tapi juga tekanan baru. Informasi datang tanpa henti. Standar hidup dipamerkan setiap hari lewat layar. Perbandingan sosial terjadi tanpa diminta.

Mental well being sering tergerus di tengah semua itu.

Banyak orang merasa harus selalu produktif. Selalu berkembang. Selalu terlihat baik. Akibatnya, istirahat dianggap malas. Mengeluh dianggap lemah.

Saya pernah berbincang dengan seorang mahasiswa tingkat akhir yang berkata, “Aku takut istirahat, takut ketinggalan.” Ketakutan semacam ini nyata, dan melelahkan.

Mental well being juga dipengaruhi oleh ketidakpastian. Soal pekerjaan, ekonomi, masa depan. Ketidakpastian ini membuat pikiran sulit tenang.

Tekanan tidak selalu datang dari luar. Kadang datang dari ekspektasi diri sendiri yang terlalu tinggi.

Dalam kondisi seperti ini, menjaga mental wellbeing bukan kemewahan. Ia kebutuhan dasar.

Tanda Mental Wellbeing Mulai Terganggu

Gangguan mental wellbeing tidak selalu muncul sebagai krisis besar. Justru sering datang pelan-pelan.

Mulai dari sulit tidur. Mudah marah. Kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai. Merasa hampa tanpa tahu sebabnya.

Ada orang yang terus bekerja untuk menghindari pikirannya sendiri. Ada yang menarik diri dari lingkungan, Ada juga yang tetap tersenyum, tapi merasa kosong.

Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Aku nggak sedih, tapi juga nggak bahagia.” Kalimat ini sering muncul dari mental well being yang terabaikan.

Mengenali tanda-tanda ini penting. Bukan untuk memberi label, tapi untuk sadar bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

Mental well being bukan soal kuat atau lemah. Ia soal sadar dan peduli.

Mental Wellbeing dalam Dunia Kerja

Dunia kerja adalah salah satu faktor besar yang memengaruhi mental wellbeing. Target, tekanan, budaya kerja, dan relasi profesional semuanya berperan.

Banyak pekerja merasa harus selalu siap. Selalu responsif. Selalu tersedia. Akibatnya, batas antara kerja dan hidup pribadi menjadi kabur.

Saya pernah mengikuti liputan tentang kelelahan kerja. Banyak narasumber mengatakan hal yang sama: bukan jam kerja panjang yang paling melelahkan, tapi tekanan mental yang terus-menerus.

Mental wellbeing di tempat kerja sering baru dibicarakan ketika karyawan sudah burnout. Padahal pencegahan jauh lebih penting.

Lingkungan kerja yang mendukung mental well being bukan berarti bebas tekanan, tapi memberi ruang untuk bernapas. Ruang untuk jujur. Ruang untuk manusiawi.

Peran Relasi Sosial dalam Mental Wellbeing

Manusia adalah makhluk sosial. Relasi dengan orang lain sangat memengaruhi mental well being.

Hubungan yang sehat memberi rasa aman. Dukungan. Tempat berbagi. Sebaliknya, hubungan yang toksik bisa menguras energi mental secara perlahan.

Saya pernah melihat seseorang yang tampak baik-baik saja, tapi ternyata tertekan oleh lingkungan yang terus meremehkan. Ia tidak sakit secara fisik, tapi mentalnya lelah.

Mental wellbeing tumbuh ketika seseorang merasa didengar dan dihargai. Tidak harus selalu setuju, tapi saling memahami.

Di sisi lain, isolasi sosial juga berbahaya. Terlalu lama memendam sendiri bisa memperburuk kondisi mental.

Menjaga mental well being berarti juga berani membangun dan menjaga relasi yang sehat.

Cara Sederhana Menjaga Mental Wellbeing

Menjaga mental wellbeing tidak selalu membutuhkan langkah besar. Justru hal-hal kecil yang konsisten sering paling berdampak.

Pertama, mengenali diri sendiri. Tahu batas lelah. Tahu apa yang memicu stres.

Kedua, memberi waktu istirahat tanpa rasa bersalah. Istirahat bukan kegagalan.

Ketiga, berbicara. Dengan teman, keluarga, atau profesional jika diperlukan. Meminta bantuan bukan tanda lemah.

Keempat, membatasi paparan yang melelahkan mental. Termasuk informasi dan media sosial.

Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Setelah aku berhenti membandingkan hidupku dengan orang lain, pikiranku lebih ringan.” Kalimat ini sederhana, tapi kuat.

Mental well being bukan soal hidup sempurna. Ia soal hidup yang cukup sadar dan seimbang.

Mental Wellbeing dan Stigma yang Masih Ada

Meski pembicaraan soal kesehatan mental semakin terbuka, stigma masih ada. Banyak orang takut dicap berlebihan, manja, atau tidak kuat.

Stigma ini membuat banyak orang memilih diam. Padahal diam sering memperburuk keadaan.

Sebagai pembawa berita, saya melihat perubahan perlahan. Tapi masih banyak ruang untuk edukasi.

Mental wellbeing bukan tren. Bukan gaya hidup sesaat. Ia kebutuhan manusia.

Menghapus stigma berarti memberi ruang bagi orang untuk jujur tentang kondisinya.

Mental Wellbeing sebagai Investasi Jangka Panjang

Menjaga mental wellbeing adalah investasi. Dampaknya tidak selalu terasa instan, tapi sangat berharga dalam jangka panjang.

Orang dengan mental welbeing yang baik cenderung lebih adaptif. Lebih tenang menghadapi perubahan. Lebih mampu membangun relasi yang sehat.

Mental wellbeing juga berpengaruh pada kesehatan fisik. Stres berkepanjangan terbukti berdampak pada tubuh.

Saya pernah mendengar ungkapan, “Tubuh mengikuti pikiran.” Tidak selalu mutlak benar, tapi ada benarnya.

Mental wellbeing bukan tujuan akhir. Ia proses yang terus berjalan.

Penutup: Mental Wellbeing adalah Hak, Bukan Kemewahan

Mental wellbeing bukan sesuatu yang hanya dimiliki segelintir orang. Ia hak setiap manusia.

Dalam hidup yang semakin cepat dan kompleks, menjaga mental wellbeing adalah bentuk keberanian. Keberanian untuk peduli pada diri sendiri.

Mungkin kita tidak bisa mengontrol semua hal yang terjadi. Tapi kita bisa belajar merawat cara kita meresponsnya.

Dan di situlah mental wellbeing bekerja. Diam-diam. Tapi menentukan.

Baca Juga Konten Dengan Artikel Terkait Tentang: Kesehatan

Baca Juga Artikel Dari: Regulasi Emosi: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup yang Semakin Riuh

Author

Related Posts