0 Comments

JAKARTA, incahospital.co.id – Pemfigoid bulosa adalah penyakit autoimun langka yang menyerang lapisan kulit bagian dalam dan menyebabkan terbentuknya lepuhan besar berisi cairan. Kondisi ini biasanya muncul pada orang lanjut usia, meski dapat juga terjadi pada usia produktif dalam kasus tertentu.

Dalam situasi normal, sistem kekebalan tubuh melindungi kulit dari serangan zat asing. Namun, pada penderita pemfigoid bulosa, sistem imun justru menyerang protein di membran dasar kulit, yaitu lapisan yang menghubungkan epidermis (kulit luar) dengan dermis (kulit dalam). Akibatnya, lapisan kulit terpisah dan terbentuklah gelembung atau lepuhan.

Meskipun terlihat menakutkan, pemfigoid bulosa tergolong penyakit kronis non-menular yang dapat dikontrol dengan perawatan tepat. Kasusnya jarang ditemukan, namun memerlukan diagnosis akurat karena gejalanya mirip dengan penyakit kulit lainnya seperti pemfigus vulgaris atau dermatitis herpetiformis.

Penyebab dan Mekanisme Terjadinya Pemfigoid Bulosa

Pemfigoid Bulosa

Penyebab utama pemfigoid bulosa adalah reaksi autoimun — kondisi di mana sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi yang salah mengenali jaringan kulit sebagai musuh.
Antibodi ini menyerang protein struktural BP180 dan BP230 yang berfungsi merekatkan lapisan kulit. Ketika struktur ini rusak, cairan tubuh menumpuk di antara lapisan epidermis dan dermis, membentuk lepuhan besar.

Beberapa faktor yang dapat memicu atau memperparah munculnya pemfigoid bulosa antara lain:

  1. Usia lanjut. Sebagian besar penderita berusia di atas 60 tahun.

  2. Efek samping obat tertentu. Misalnya dari antibiotik golongan penisilin, diuretik, atau obat untuk tekanan darah tinggi seperti furosemide.

  3. Penyakit penyerta. Seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan saraf (Parkinson dan demensia).

  4. Paparan sinar ultraviolet atau radioterapi. Dapat memicu reaksi imun abnormal pada jaringan kulit.

Menariknya, meski penyakit ini terkait sistem imun, faktor genetik dan lingkungan juga berperan dalam menentukan kerentanan seseorang terhadap pemfigoid bulosa.

Gejala dan Tanda-Tanda Klinis Pemfigoid Bulosa

Gejala utama pemfigoid bulosa adalah lepuhan besar berisi cairan jernih atau kekuningan, yang sering muncul pada:

  • Perut bagian bawah,

  • Paha dalam,

  • Ketiak,

  • Lipatan siku atau lutut,

  • Tangan dan kaki.

Sebelum lepuhan muncul, penderita biasanya merasakan gatal hebat, nyeri ringan, atau ruam merah di area tertentu. Lepuhan dapat bertahan selama beberapa hari hingga pecah, meninggalkan bekas luka ringan atau kulit mengelupas.

Ciri khas lepuhan pada pemfigoid bulosa adalah dindingnya tebal dan tidak mudah pecah, berbeda dari pemfigus vulgaris yang lepuhannya rapuh. Dalam kasus parah, lepuhan juga dapat muncul di mulut, hidung, atau alat kelamin, menyebabkan rasa sakit saat makan atau berbicara.

Gejala umum lainnya meliputi:

  • Sensasi terbakar di kulit,

  • Kelelahan atau demam ringan,

  • Kulit mengering setelah lepuhan sembuh.

Penyakit ini cenderung berulang (relaps) jika pengobatan tidak dijalankan konsisten.

Diagnosis Pemfigoid Bulosa: Tes dan Pemeriksaan Medis

Diagnosis pemfigoid bulosa memerlukan kombinasi pemeriksaan klinis dan laboratorium. Dokter kulit akan menilai bentuk lepuhan, lokasi, dan durasi kemunculannya. Untuk memastikan diagnosis, dilakukan beberapa tes berikut:

  1. Biopsi Kulit.
    Diambil sampel kecil dari kulit di sekitar lepuhan untuk diperiksa di bawah mikroskop. Tes ini mencari pola khas pemisahan antara lapisan kulit.

  2. Imunofluoresensi Langsung.
    Pemeriksaan ini mendeteksi antibodi (IgG dan C3) yang menempel pada membran dasar kulit — ciri khas pemfigoid bulosa.

  3. Tes Darah.
    Digunakan untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap protein BP180 dan BP230.

  4. Tes Diferensial.
    Dilakukan untuk membedakan pemfigoid bulosa dari penyakit kulit lainnya yang juga menimbulkan lepuhan.

Diagnosis yang tepat sangat penting karena pengobatan penyakit autoimun kulit berbeda dari infeksi kulit biasa.

Pilihan Pengobatan Pemfigoid Bulosa

Tujuan utama pengobatan pemfigoid bulosa adalah mengontrol peradangan, mencegah infeksi, dan mengurangi gatal atau nyeri.
Pendekatan terapi tergantung pada tingkat keparahan dan area kulit yang terkena.

1. Kortikosteroid

Obat seperti prednison atau mometasone sering digunakan sebagai terapi utama untuk menekan reaksi imun yang menyebabkan lepuhan.
Pada kasus ringan, krim kortikosteroid topikal cukup efektif. Namun, untuk kasus berat, dokter akan memberikan versi oral atau suntikan.

2. Imunosupresan

Jika pasien tidak merespons kortikosteroid, dokter mungkin menambahkan azathioprine atau methotrexate untuk menekan sistem imun lebih lanjut.

3. Antibiotik Anti-Inflamasi

Obat seperti tetracycline dan doxycycline tidak hanya melawan infeksi sekunder, tetapi juga memiliki efek antiinflamasi ringan.

4. Perawatan Luka

Lepuhan yang pecah perlu dirawat dengan antiseptik dan ditutup kasa steril untuk mencegah infeksi.
Hindari menusuk lepuhan karena dapat memperparah luka.

5. Terapi Jangka Panjang

Beberapa pasien membutuhkan terapi pemeliharaan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Pemantauan rutin kadar gula darah dan tekanan darah penting karena efek samping obat jangka panjang.

Dengan pengobatan yang konsisten, sebagian besar pasien dapat mencapai remisi total dalam 6–12 bulan.

Tips Perawatan Mandiri dan Pencegahan Kekambuhan

Selain terapi medis, penderita pemfigoid bulosa juga dapat melakukan perawatan mandiri di rumah:

  1. Jaga kebersihan kulit. Gunakan sabun lembut tanpa pewangi.

  2. Hindari paparan sinar matahari langsung. Gunakan tabir surya dan pakaian pelindung.

  3. Konsumsi makanan bergizi. Protein dan vitamin C membantu mempercepat penyembuhan kulit.

  4. Kendalikan stres. Stres dapat memperburuk kondisi autoimun.

  5. Periksa rutin ke dokter kulit. Untuk menyesuaikan dosis obat dan mencegah efek samping.

Pencegahan total memang belum dimungkinkan, tetapi disiplin perawatan dapat menekan risiko kambuh hingga di bawah 10% per tahun.

Komplikasi yang Mungkin Terjadi

Jika tidak ditangani dengan baik, pemfigoid bulosa dapat menyebabkan komplikasi serius, antara lain:

  • Infeksi kulit sekunder akibat lepuhan pecah.

  • Gangguan elektrolit akibat kehilangan cairan tubuh.

  • Efek samping obat jangka panjang seperti osteoporosis, hipertensi, atau gula darah tinggi.

  • Penurunan kualitas hidup akibat rasa gatal dan nyeri kronis.

Namun, dengan pengobatan tepat dan pemantauan medis, prognosis penyakit ini tergolong baik, dengan angka kesembuhan tinggi.

Kesimpulan

Pemfigoid bulosa adalah penyakit kulit autoimun langka yang menyebabkan lepuhan besar di kulit. Meskipun kronis, penyakit ini bisa dikendalikan dengan kombinasi obat kortikosteroid, imunosupresan, dan perawatan luka yang baik.

Diagnosis dini, pemantauan ketat, dan gaya hidup sehat adalah kunci untuk menjaga kualitas hidup penderita. Dalam konteks kesehatan masyarakat, meningkatkan kesadaran tentang penyakit ini penting agar kasus dapat dikenali lebih cepat dan ditangani secara efektif.

Baca Juga Konten dengan Artikel Terkait Tentang: Kesehatan

Baca juga artikel lainnya: Rosacea: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Author

Related Posts