0 Comments

JAKARTA, incahospital.co.id – Bercak keunguan yang muncul di kulit tanpa rasa sakit sering dianggap sebagai memar biasa atau tanda penuaan. Namun jika bercak tersebut tidak kunjung hilang dan justru bertambah banyak, kondisi ini bisa menjadi tanda awal dari penyakit serius yang memerlukan penanganan medis segera. Salah satu kemungkinannya adalah sarkoma kaposi, yaitu jenis kanker langka yang menyerang sel sel pembuluh darah dan kelenjar getah bening.

Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh dokter kulit asal Hungaria bernama Moritz Kaposi pada tahun 1872. Selama lebih dari satu abad, kondisi ini hanya dikenal sebagai penyakit langka yang menyerang pria lanjut usia keturunan Mediterania. Namun pada era 1980an, kasus melonjak drastis seiring dengan munculnya epidemi HIV/AIDS yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia.

Memahami Penyakit Sarkoma Kaposi dan Sel yang Diserang

Sarkoma Kaposi

Kanker ini berasal dari sel endotel, yaitu sel sel yang melapisi bagian dalam pembuluh darah dan pembuluh limfa atau getah bening. Ketika sel endotel mengalami perubahan dan tumbuh tidak terkendali, terbentuklah tumor yang bisa muncul di berbagai bagian tubuh secara bersamaan.

Bagian tubuh yang bisa terserang:

  • Kulit di area kaki, wajah, lengan, dan badan
  • Rongga mulut termasuk gusi dan langit langit
  • Kelenjar getah bening di berbagai lokasi
  • Saluran pencernaan seperti lambung dan usus
  • Paru paru dan saluran pernapasan
  • Organ limpa dan hati

Berbeda dengan kebanyakan kanker yang menyebar dari satu titik asal, sarkoma kaposi bisa muncul di beberapa lokasi berbeda dalam waktu bersamaan. Hal ini membuat penanganannya memerlukan pendekatan menyeluruh yang mempertimbangkan seluruh kondisi tubuh pasien.

Penyebab Utama dan Peran Virus HHV-8

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus yang dikenal sebagai human herpesvirus 8 atau HHV-8. Virus ini juga sering disebut Kaposi sarcoma associated herpesvirus atau KSHV. Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh normal, infeksi virus ini biasanya tidak menimbulkan gejala apapun.

Cara penularan virus HHV-8:

  • Kontak langsung dengan air liur orang yang terinfeksi
  • Hubungan intim tanpa pelindung dengan orang terinfeksi
  • Penggunaan jarum suntik bergantian
  • Transfusi darah yang terkontaminasi
  • Penularan dari ibu ke anak saat persalinan

Virus HHV-8 baru berkembang menjadi kanker ketika sistem pertahanan tubuh melemah. Kondisi ini memungkinkan virus untuk menyebabkan perubahan pada gen yang mengontrol pertumbuhan sel endotel sehingga sel tersebut membelah tanpa kendali dan membentuk tumor.

Empat Jenis Sarkoma Kaposi Berdasarkan Penyebabnya

Para ahli mengklasifikasikan penyakit ini menjadi empat jenis utama berdasarkan kelompok orang yang terserang dan faktor pemicunya. Setiap jenis memiliki karakteristik perkembangan dan tingkat keparahan yang berbeda.

Jenis pertama adalah tipe epidemik atau terkait AIDS yang menyerang penderita HIV/AIDS. Virus HIV merusak sel limfosit T helper yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, virus HHV-8 bisa berkembang dengan cepat dan membentuk kanker yang agresif. Jenis ini paling sering ditemukan dan bisa menyebar ke organ dalam dengan cepat jika tidak ditangani.

Jenis kedua adalah tipe klasik yang umumnya menyerang pria berusia di atas 60 tahun keturunan Eropa Timur, Mediterania, atau Timur Tengah. Perkembangan kanker jenis ini sangat lambat selama bertahun tahun dan biasanya hanya menyerang kulit tanpa menyebar ke organ lain.

Jenis ketiga adalah tipe endemik yang banyak ditemukan di negara negara Afrika. Tingginya angka malnutrisi, malaria, dan infeksi kronis di wilayah tersebut menyebabkan sistem kekebalan tubuh penduduk lebih rentan. Jenis ini bisa menyerang anak anak maupun orang dewasa.

Jenis keempat adalah tipe iatrogenik yang terjadi pada pasien transplantasi organ. Obat imunosupresan yang diberikan untuk mencegah penolakan organ baru justru melemahkan sistem pertahanan tubuh terhadap virus HHV-8.

Gejala Awal Sarkoma Kaposi yang Perlu Diwaspadai

Tanda paling mudah dikenali dari penyakit ini adalah munculnya bercak atau lesi pada kulit. Bercak tersebut memiliki warna khas kemerahan, keunguan, atau kecoklatan yang tidak hilang meski ditekan. Berbeda dengan memar biasa, lesi ini tidak terasa nyeri dan tidak gatal.

Ciri ciri lesi pada kulit:

  • Bentuk bisa rata seperti bercak atau menonjol seperti benjolan
  • Warna ungu, merah, atau coklat tua
  • Ukuran bervariasi dari beberapa milimeter hingga sentimeter
  • Tidak nyeri saat disentuh
  • Bisa bergabung membentuk benjolan lebih besar seiring waktu
  • Kadang mengalami pendarahan spontan

Lesi bisa muncul di area manapun namun paling sering ditemukan di kaki, wajah, dan area genital. Pada tahap awal, banyak orang mengabaikan bercak ini karena mengira hanya masalah kulit biasa.

Tanda Penyebaran Sarkoma Kaposi ke Organ Dalam

Ketika kanker sudah menyebar melampaui kulit, gejala yang muncul akan tergantung pada organ yang terserang. Penyebaran ke organ dalam menandakan kondisi yang lebih serius dan memerlukan penanganan intensif.

Gejala berdasarkan lokasi penyebaran:

  • Mulut dan tenggorokan: kesulitan makan, menelan, dan berbicara
  • Kelenjar getah bening: pembengkakan parah di lengan, kaki, wajah, atau selangkangan
  • Saluran pencernaan: mual, muntah, sakit perut, pendarahan internal
  • Paru paru: sesak napas, batuk berdarah, nyeri dada
  • Hati dan limpa: pembesaran organ, rasa tidak nyaman di perut

Penderita HIV/AIDS perlu sangat waspada karena perkembangan kanker pada kelompok ini bisa sangat cepat jika sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah.

Proses Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Sarkoma Kaposi

Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan diagnosis dan menentukan sejauh mana kanker telah menyebar. Proses ini penting untuk menentukan jenis pengobatan yang paling tepat.

Metode pemeriksaan yang dilakukan:

  • Pemeriksaan fisik lesi kulit oleh dokter spesialis
  • Biopsi kulit untuk mengambil sampel jaringan dan diperiksa di laboratorium
  • Tes HIV untuk mengetahui status infeksi virus penyebab AIDS
  • Pemeriksaan darah lengkap untuk melihat kondisi umum tubuh
  • Rontgen dada untuk mendeteksi penyebaran ke paru paru
  • CT scan untuk melihat kondisi organ dalam secara detail
  • Endoskopi untuk memeriksa saluran pencernaan bagian atas
  • Kolonoskopi untuk memeriksa usus besar dan rektum
  • Bronkoskopi untuk memeriksa saluran pernapasan

Hasil pemeriksaan akan menunjukkan jenis sarkoma kaposi yang diderita dan stadium penyakit sehingga dokter bisa menyusun rencana pengobatan yang sesuai.

Pilihan Pengobatan untuk Mengatasi Sarkoma Kaposi

Penanganan penyakit ini disesuaikan dengan jenis kanker, jumlah lesi, lokasi penyebaran, dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Dokter seringkali mengombinasikan beberapa metode untuk hasil yang optimal.

Terapi antiretroviral atau ART menjadi pengobatan utama bagi penderita yang juga mengidap HIV/AIDS. Obat ini bekerja menekan perkembangan virus HIV sehingga sistem kekebalan tubuh bisa pulih dan melawan virus HHV-8. Pada banyak kasus, lesi sarkoma kaposi mengecil atau bahkan hilang setelah pasien rutin menjalani terapi ART.

Bagi pasien transplantasi organ, dokter mungkin akan menurunkan dosis atau mengganti jenis obat imunosupresan yang dikonsumsi. Hal ini bertujuan memulihkan sebagian fungsi sistem kekebalan tubuh tanpa menyebabkan penolakan organ transplantasi.

Tindakan Medis untuk Lesi Sarkoma Kaposi pada Kulit

Lesi yang muncul di kulit bisa ditangani dengan berbagai prosedur medis tergantung pada ukuran, jumlah, dan lokasinya. Beberapa tindakan bertujuan menghilangkan lesi secara lokal tanpa mempengaruhi seluruh tubuh.

Prosedur untuk lesi kulit:

  • Eksisi bedah untuk mengangkat lesi beserta jaringan sehat di sekitarnya
  • Krioterapi menggunakan nitrogen cair untuk membekukan dan menghancurkan sel kanker
  • Elektrokoagulasi dengan arus listrik untuk memusnahkan jaringan kanker
  • Terapi laser untuk menghancurkan lesi tanpa merusak jaringan sekitar
  • Injeksi obat kemoterapi langsung ke dalam lesi
  • Gel asam retinoat yang dioleskan beberapa kali sehari pada lesi kecil

Pengobatan lokal ini efektif untuk lesi yang jumlahnya sedikit dan belum menyebar ke organ dalam. Namun perlu diingat bahwa lesi yang sudah sembuh bisa kambuh kembali.

Kemoterapi dan Radioterapi untuk Kasus yang Lebih Parah

Ketika kanker sudah menyebar luas atau menyerang organ dalam, diperlukan pengobatan sistemik yang bekerja pada seluruh tubuh. Kemoterapi dan radioterapi menjadi pilihan utama untuk kondisi ini.

Kemoterapi menggunakan obat obatan kuat seperti doxorubicin, paclitaxel, atau gemcitabine untuk membunuh sel kanker. Obat bisa diberikan melalui infus ke pembuluh darah atau dalam bentuk tablet yang diminum. Efek samping yang mungkin muncul termasuk mual, muntah, rambut rontok, kelelahan, dan penurunan daya tahan tubuh.

Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk menghancurkan sel kanker. Metode ini sangat efektif mengurangi gejala pada pasien dengan lesi luas atau yang sudah menyebar ke organ lain. Efek samping radioterapi meliputi kelelahan, kemerahan kulit, dan kaku pada otot serta persendian.

Langkah Pencegahan agar Terhindar dari Sarkoma Kaposi

Meski tidak ada vaksin untuk mencegah infeksi virus HHV-8, beberapa langkah bisa dilakukan untuk menurunkan risiko terkena penyakit ini. Pencegahan terutama difokuskan pada menghindari penularan virus dan menjaga sistem kekebalan tubuh tetap kuat.

Upaya pencegahan yang bisa dilakukan:

  • Selalu menggunakan pelindung saat berhubungan intim
  • Tidak berganti ganti pasangan seksual
  • Menghindari penggunaan jarum suntik bergantian
  • Menjalani tes HIV secara berkala bagi kelompok berisiko
  • Mengonsumsi obat antiretroviral secara rutin bagi penderita HIV
  • Menjaga pola hidup sehat untuk mendukung sistem kekebalan tubuh
  • Menghindari kontak langsung dengan lesi orang yang terinfeksi

Bagi ibu hamil yang terinfeksi HIV, konsumsi obat antiretroviral secara rutin sangat penting untuk mencegah penularan virus ke bayi yang dikandung.

Gaya Hidup Sehat Selama Menjalani Pengobatan

Pasien yang sedang menjalani pengobatan perlu memperhatikan pola hidup untuk mendukung proses penyembuhan dan mencegah komplikasi. Perubahan gaya hidup ini melengkapi terapi medis yang diberikan dokter.

Anjuran gaya hidup selama pengobatan:

  • Berhenti merokok karena rokok melemahkan sistem kekebalan tubuh
  • Menerapkan pola makan bergizi seimbang sesuai kebutuhan penderita kanker
  • Berolahraga ringan secara teratur sesuai kemampuan
  • Menjaga kebersihan area kulit yang terdapat lesi
  • Istirahat cukup untuk mendukung pemulihan tubuh
  • Tetap menggunakan pelindung saat berhubungan intim
  • Rutin kontrol ke dokter sesuai jadwal yang ditentukan

Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar juga sangat berperan dalam proses penyembuhan pasien kanker. Kondisi mental yang positif membantu tubuh melawan penyakit dengan lebih baik.

Kesimpulan

Sarkoma kaposi merupakan jenis kanker langka yang menyerang sel pembuluh darah dan kelenjar getah bening akibat infeksi virus HHV-8. Penyakit ini terutama menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah seperti penderita HIV/AIDS, pasien transplantasi organ yang mengonsumsi obat imunosupresan, dan lansia. Gejala utamanya berupa bercak keunguan pada kulit yang tidak nyeri namun bisa menyebar ke mulut, kelenjar getah bening, saluran pencernaan, dan paru paru. Pada tahun 2020, tercatat sekitar 34.270 kasus baru di seluruh dunia yang menunjukkan bahwa penyakit ini memang tergolong langka. Pengobatan meliputi terapi antiretroviral bagi penderita HIV, prosedur lokal seperti krioterapi dan eksisi untuk lesi kulit, serta kemoterapi dan radioterapi untuk kasus yang sudah menyebar. Deteksi dini dan penanganan segera sangat menentukan keberhasilan pengobatan, sehingga setiap orang yang menemukan bercak mencurigakan pada kulitnya sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

Baca Juga Konten dengan Artikel Terkait Tentang: Kesehatan

Baca juga artikel lainnya: Polimiositis: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

Author

Related Posts