JAKARTA, incahospital.co.id – Mendengar tangisan bayi yang tiba tiba menjerit kesakitan sambil menarik kedua lutut ke arah dada tentu membuat setiap orang tua panik dan khawatir. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya masalah serius pada sistem pencernaan yang memerlukan penanganan medis segera. Intususepsi merupakan salah satu kegawatdaruratan pada anak yang harus diwaspadai karena jika terlambat ditangani dapat berakibat fatal bahkan mengancam nyawa.
Intususepsi atau yang juga dikenal dengan istilah invaginasi termasuk kondisi medis yang cukup umum terjadi pada bayi dan anak balita. Data menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 1.200 anak mengalami kondisi ini, dengan anak laki laki memiliki risiko empat kali lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Meski tergolong kondisi darurat, penanganan yang tepat dan cepat umumnya memberikan hasil pemulihan yang baik pada sebagian besar pasien.
Mengenal Apa Itu Intususepsi

Intususepsi adalah kondisi medis serius di mana sebagian usus terlipat atau menyusup ke dalam bagian usus lainnya yang berdekatan, mirip seperti teleskop yang dilipat. Kondisi ini menyebabkan penyumbatan pada saluran pencernaan sehingga makanan dan cairan tidak dapat melewati bagian usus yang mengalami intususepsi. Selain menyebabkan sumbatan, kondisi ini juga dapat memutus aliran darah ke bagian usus yang terlipat.
Intususepsi paling sering terjadi di area perbatasan antara usus halus dan usus besar. Ketika usus terlipat, dinding usus akan tertekan dan aliran darah terhambat. Jika tidak segera ditangani, jaringan usus yang kekurangan oksigen dan nutrisi akan mengalami kematian atau nekrosis. Jaringan yang mati kemudian dapat memicu robeknya dinding usus yang disebut perforasi dan berkembang menjadi infeksi serius pada rongga perut atau peritonitis.
Penyebab Intususepsi pada Anak dan Dewasa
Penyebab intususepsi berbeda antara anak anak dan orang dewasa. Pemahaman tentang penyebabnya penting untuk penanganan yang tepat. Berikut penjelasan lengkapnya:
Penyebab pada Anak:
- Sekitar 90 persen kasus pada anak tidak diketahui penyebab pastinya atau idiopatik
- Infeksi virus seperti gastroenteritis atau flu perut sering mendahului kejadian
- Infeksi saluran pernapasan atas terutama yang disebabkan adenovirus
- Pembengkakan kelenjar getah bening di dinding usus akibat infeksi
- Diverticulum Meckel yaitu kelainan bawaan pada usus halus
- Polip atau pertumbuhan jaringan abnormal di dalam usus
- Pemberian makanan padat sebelum usia 6 bulan
Penyebab pada Dewasa:
- Tumor atau kanker di dalam usus yang menjadi titik pemicu lipatan
- Polip usus yang cukup besar
- Jaringan parut bekas operasi pada usus
- Peradangan usus buntu atau apendisitis
- Penyakit Crohn yang menyebabkan peradangan kronis pada usus
- Penyakit celiac atau intoleransi gluten
- Fibrosis kistik
Faktor Risiko Intususepsi
Beberapa faktor dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami intususepsi. Berikut faktor risiko yang perlu diwaspadai:
- Usia menjadi faktor utama dengan rentang tertinggi antara 3 bulan hingga 3 tahun
- Jenis kelamin laki laki memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan perempuan
- Riwayat keluarga dengan intususepsi meningkatkan kemungkinan kejadian serupa
- Pernah mengalami intususepsi sebelumnya berisiko kambuh di kemudian hari
- Kelainan bentuk usus bawaan sejak lahir
- Kondisi yang menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening di usus
- Riwayat operasi usus sebelumnya
Gejala Intususepsi pada Bayi dan Anak
Mengenali gejala intususepsi sedini mungkin sangat penting untuk mendapatkan penanganan cepat. Berikut gejala yang perlu diwaspadai pada bayi dan anak:
- Nyeri perut hebat yang muncul secara tiba tiba dan menyebabkan anak menangis keras
- Bayi menarik lutut ke arah dada saat mengalami episode nyeri
- Nyeri datang dan pergi dengan interval sekitar 15 hingga 20 menit
- Episode nyeri berlangsung semakin lama dan frekuensi semakin sering seiring waktu
- Anak tampak pucat dan berkeringat saat episode nyeri
- Periode tenang di antara episode nyeri di mana anak tampak lesu dan lemas
- Muntah yang awalnya berisi makanan kemudian berwarna kehijauan
- Tinja berdarah atau bercampur lendir dengan tampilan seperti jeli kismis
- Perut terasa kembung atau keras saat diraba
- Teraba benjolan berbentuk sosis di perut saat pemeriksaan
- Demam pada kasus yang sudah berlanjut
- Tanda tanda dehidrasi seperti mulut kering, mata cekung, dan jarang buang air kecil
Tiga gejala klasik yang dikenal sebagai trias klasik intususepsi meliputi nyeri perut hilang timbul, benjolan teraba di perut, dan tinja berdarah, meskipun tidak semua pasien menunjukkan ketiga gejala ini secara bersamaan.
Gejala Intususepsi pada Dewasa
Gejala intususepsi pada orang dewasa seringkali lebih sulit dikenali karena mirip dengan berbagai gangguan pencernaan lainnya. Berikut gejala yang perlu diwaspadai:
- Nyeri perut yang datang dan pergi selama berminggu minggu
- Mual dan muntah berulang
- Perut terasa kembung dan tidak nyaman
- Perubahan pola buang air besar
- Penurunan nafsu makan
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
- Darah dalam tinja pada beberapa kasus
Komplikasi Berbahaya Intususepsi
Intususepsi yang tidak segera ditangani dapat menimbulkan komplikasi serius yang mengancam jiwa. Berikut komplikasi yang dapat terjadi:
- Nekrosis atau kematian jaringan usus akibat terhentinya aliran darah
- Perforasi atau robeknya dinding usus yang sudah mengalami nekrosis
- Peritonitis yaitu infeksi serius pada lapisan rongga perut
- Sepsis atau infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah
- Syok yang ditandai dengan denyut nadi lemah, pernapasan cepat, dan tekanan darah turun
- Dehidrasi berat akibat muntah dan tidak mau minum
- Kematian jika penanganan sangat terlambat
Diagnosis Intususepsi
Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan diagnosis intususepsi. Berikut tahapan diagnosis yang dilakukan:
Pemeriksaan Awal:
- Anamnesis atau wawancara mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien
- Pemeriksaan fisik terutama pada area perut untuk mendeteksi benjolan atau nyeri tekan
- Pemeriksaan tanda tanda dehidrasi dan kondisi umum pasien
Pemeriksaan Penunjang:
- USG perut merupakan metode diagnostik pilihan utama dengan akurasi tinggi
- Gambaran khas target sign atau doughnut sign terlihat pada USG
- Foto Rontgen perut untuk melihat tanda penyumbatan usus
- CT Scan untuk kasus yang lebih kompleks terutama pada dewasa
- Contrast enema menggunakan barium atau udara untuk diagnosis sekaligus terapi
Penanganan Intususepsi
Intususepsi merupakan kondisi darurat yang memerlukan penanganan segera dalam waktu kurang dari 24 jam. Berikut tahapan penanganan yang dilakukan:
Stabilisasi Awal:
- Pasien diminta puasa untuk mengistirahatkan saluran pencernaan
- Pemberian cairan melalui infus untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi
- Pemasangan selang nasogastrik atau NGT melalui hidung ke lambung untuk mengurangi tekanan
- Pemberian antibiotik untuk mencegah atau mengatasi infeksi
- Monitoring tanda vital secara ketat
Penanganan Non Bedah dengan Enema:
- Prosedur ini menjadi pilihan utama untuk anak anak tanpa tanda perforasi
- Selang tipis dimasukkan ke dalam rektum atau anus pasien
- Udara atau cairan barium dialirkan ke dalam usus melalui selang
- Tekanan dari udara atau cairan mendorong usus yang terlipat kembali ke posisi normal
- Dokter memantau proses melalui sinar X atau fluoroskopi secara real time
- Tingkat keberhasilan prosedur ini mencapai 80 hingga 90 persen pada anak
- Pasien diobservasi setelah prosedur untuk memastikan keberhasilan
Penanganan Bedah:
- Operasi menjadi pilihan utama untuk pasien dewasa
- Dilakukan jika prosedur enema gagal pada anak
- Wajib dilakukan jika ada tanda perforasi atau peritonitis
- Dapat dilakukan secara laparoskopi atau bedah terbuka
- Dokter meluruskan usus yang terlipat secara manual
- Bagian usus yang mengalami nekrosis diangkat
- Ujung usus yang sehat disambungkan kembali
Prognosis dan Tingkat Kesembuhan
Sebagian besar pasien intususepsi yang mendapatkan penanganan tepat waktu memiliki prognosis yang baik. Berikut informasi penting tentang tingkat kesembuhan:
- Pasien yang ditangani dalam 24 jam pertama umumnya pulih sepenuhnya
- Tingkat keberhasilan enema mencapai 80 hingga 90 persen pada anak
- Sekitar 10 persen pasien dapat mengalami kekambuhan dalam beberapa hari pertama
- Kekambuhan biasanya terjadi 1 hingga 2 hari setelah prosedur pertama
- Pasien dengan kerusakan usus minimal memiliki prognosis sangat baik
- Pasien yang memerlukan pengangkatan segmen usus besar mungkin membutuhkan perawatan jangka panjang
Kapan Harus ke Dokter
Mengetahui kapan harus mencari pertolongan medis sangat penting untuk mencegah komplikasi. Segera bawa anak ke unit gawat darurat jika mengalami kondisi berikut:
- Nyeri perut hebat yang muncul tiba tiba dan menyebabkan anak menangis kesakitan
- Anak menarik lutut ke dada saat episode nyeri
- Nyeri perut yang datang dan pergi secara berkala
- Muntah berulang terutama yang berwarna kehijauan
- Tinja berdarah atau bercampur lendir
- Anak tampak sangat lemas dan lesu di antara episode nyeri
- Demam disertai perut yang membengkak atau mengeras
- Tanda tanda dehidrasi seperti mulut kering dan jarang buang air kecil
Jangan memberikan obat pereda nyeri sebelum pemeriksaan dokter karena dapat menutupi gejala dan menunda diagnosis yang tepat.
PencegahanIntususepsi
Karena penyebab intususepsi pada anak sebagian besar tidak diketahui, pencegahan spesifik sulit dilakukan. Namun beberapa langkah dapat membantu mengurangi risiko:
- Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan
- Tunda pemberian makanan padat hingga bayi berusia 6 bulan
- Perkenalkan makanan pendamping ASI secara bertahap sesuai usia
- Segera tangani infeksi saluran pencernaan pada anak
- Perhatikan gejala awal dan segera konsultasi ke dokter jika mencurigakan
- Lakukan pemeriksaan rutin untuk anak dengan faktor risiko tinggi
Tips Merawat Anak Pasca Penanganan Intususepsi
Perawatan setelah penanganan intususepsi sangat penting untuk pemulihan optimal. Berikut tips yang dapat diterapkan:
- Berikan makanan cair atau lunak sesuai anjuran dokter setelah prosedur
- Tingkatkan konsistensi makanan secara bertahap
- Pastikan anak mendapatkan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi
- Pantau tanda tanda kekambuhan seperti nyeri perut dan muntah
- Perhatikan warna dan konsistensi tinja anak
- Berikan obat obatan sesuai resep dokter
- Bawa anak kontrol sesuai jadwal yang ditentukan
- Hindari aktivitas berat selama masa pemulihan
- Segera kembali ke rumah sakit jika gejala muncul kembali
PerbedaanIntususepsi dengan Kolik pada Bayi
Gejala intususepsi pada bayi sering disalahartikan sebagai kolik biasa. Berikut perbedaan yang perlu dipahami:
Karakteristik Kolik:
- Tangisan berlangsung lebih dari 3 jam sehari
- Terjadi secara teratur biasanya di waktu yang sama
- Bayi tetap mau menyusu dan buang air besar normal
- Tidak ada darah dalam tinja
- Kondisi umum bayi baik di antara episode tangisan
Karakteristik Intususepsi:
- Tangisan sangat keras dan tiba tiba akibat nyeri hebat
- Episode nyeri datang dan pergi dengan interval teratur
- Bayi menarik lutut ke dada saat kesakitan
- Dapat disertai muntah dan tinja berdarah
- Anak tampak sangat lemas di antara episode nyeri
- Kondisi umum memburuk seiring waktu
Kesimpulan
Intususepsi merupakan kondisi kegawatdaruratan pada anak yang memerlukan penanganan medis segera dalam waktu kurang dari 24 jam. Kondisi ini terjadi ketika sebagian usus terlipat dan menyusup ke dalam bagian usus lainnya, menyebabkan penyumbatan dan gangguan aliran darah yang dapat berakibat fatal jika tidak ditangani. Gejala utama yang perlu diwaspadai meliputi nyeri perut hebat yang datang dan pergi, bayi menangis keras sambil menarik lutut ke dada, muntah, dan tinja berdarah seperti jeli kismis.
Deteksi dini dan penanganan cepat menjadi kunci keberhasilan pengobatan intususepsi. Prosedur enema dengan udara atau barium memiliki tingkat keberhasilan 80 hingga 90 persen pada anak dan menjadi pilihan utama jika tidak ada tanda perforasi. Orang tua perlu mengenali gejala dan segera membawa anak ke unit gawat darurat jika mencurigai adanya intususepsi, karena penanganan yang terlambat dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kematian jaringan usus, perforasi, peritonitis, hingga syok yang mengancam jiwa.
Baca Juga Konten dengan Artikel Terkait Tentang: Kesehatan
Baca juga artikel lainnya: Self Compassion Cara Mencintai Diri untuk Kesehatan Mental
